/
Kamis, 08 Desember 2022 | 18:20 WIB
Dedi Mulyadi (Youtube)

Suara Denpasar-  Perseteruan antara  Dedi Mulyadi yang digugat cerai oleh sang istri Ambu Anne Ratna Mustika hingga saat ini  nampak  belum ada ujungnya.

Seperti diketahui Dedi Mulyadi digugat cerai oleh sang istri yang saat ini menjabat sebagai  Bupati Purwakarta  karena dianggap telah melakukan KDRT secara psikologis hingga tak memberi nafkah.

Kang Dedi Mulyadi (KMD) sapaan akrabnya  pun dalam hal ini membantah tuduhan sang istri.

Bahkan, Kang Dedi Mulyadi makin kesini kian menunjukkan bukti sayangnya terhadap  Ambu Anne Ratna Mustika, meski tak mendapat balasan yang sama dari sang istri.

Hal ini terungkap dalam  sidang lanjutan gugatan cerai di Pengadilan Agama Purwakarta, Rabu 7 Desember 2022 kemarin.

Kang Dedi dalam hal ini masih menyebut  atau memanggil  Anne Ratna  Mustika dengan sebutan ‘embu’.  Meski anggota DPR RI ini enggan dipanggil ayah lagi oleh sang istri.

Bahkan Dedi Mulyadi pun menyebut bahwa  Anne Ratna Mustika ini  merupakan sosok yang baik dan hatinya sangat terbuka.

“Saya katakan embu (panggilan Anne) ini orangnya baik, walaupun embu sudah tidak mau panggil saya ayah, selalu bilangnya KDM (Kang Dedi Mulyadi) gak apa-apa, saya tetap bilang embu, embu orangnya baik tetapi karena hatinya sangat terbuka, telinga embu terlalu banyak mendengar, dan siapa yang didengar adalah orang-orang di sekelilingnya,” katanya dikutip melalui bandung.suara.com.

Tidak hanya itu, Kang Dedi juga mengingatkan kepada sang istri untuk berhati-hati  dalam politik mengingat Anne Ratna Mustika tergolong masih polos dalam dunia tersebut.

Baca Juga: Harga iQOO 11 di Indonesia Mulai Rp 11 Juta, Ada Diskon untuk Pemesan Perdana

“Hati-hati dalam politik,” katanya.

Kang Dedi pun menyampaikan fakta baru terkait orang-orang  yang ada dalam lingkaran  gugatan perceraian Anne Ratna Mustika terhadap Kang Dedi.

Orang-orang yang dimaksud berada di lingkungan pemerintahan, luar pemerintahan, keluarga hingga guru spiritual.

Namun, Kang Dedi tidak mau menyebut  guru spiritualnya tersebut sebagai guru ngaji melainkan lebih  ke penanya.

“Saya tidak mau menyebut guru ngaji karena di situ bukan proses belajar mengaji, tapi proses belajar bertanya. Kalau dalam bahasa Sunda itu disebutnya pananyaan,” bebernya. 

Kang Dedi pun memastikan, istrinya tidak pernah belajar mengaji pada Ketua PCNU Purwakarta seperti yang diberitakan sejumlah media.

“Pananyaan itu kan embu tinggalnya di mana sih? Bukan di Purwakarta tapi di Cianjur, tetangga desanya, saya tahu kok. Nah kemudian yang lain-lain itu adalah pananyaan lain di Purwakarta ada beberapa, di Banten juga ada. Embu itu ada tradisi baru sering ke pengayaan sekarang itu,” lanjutnya. (Rizal/*)

Load More