Suara Denpasar - Binatang bernama Katak Pelangi atau Ansonia Latidisca yang pernah hilang lebih dari 100 tahun kini ditemukan kembali di Indonesia.
Dikutip dari akun Instagram @kementrianlhk yang diunggah, bahwa dijelaskan penemuan kembali katak pelangi merupakan hasil kegiatan Scientific Exploration and Expedition Cagar Alam (CA) Gunung Nyiut 2022, yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) bersama peneliti muda ahli botani menemukan kembali katak pelangi atau ansonia latidisca.
Dijelaskan juga, katak pelangi atau sambas stream toad, pertamakali ditemukan pada tahun 1893 oleh seorang ahli botani asal Jerman, Johann Gottfried Hallier, dibagian hulu Sungai Sambas, di puncak Gunung Damus, berada di sekitar Gunung Nyiut yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
"Nah, semenjak itulah, katak kharismatik yang cantik dan berukuran mini ini tidak pernah ditemukan kembali dibagian wilayah Indonesia," tulisnya, seperti dikutip Suara Denpasar, Sabtu (14/1).
Namun, akhirnya 129 tahun berselang sejak pertamakali katak pelangi itu teramati di wilayah Indonesia dan tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77 yang lalu, botanis Indonesia, Randi Agusti, menemukan katak ini.
Selain itu, diterangkannya bahwa katak pelangi mempunyai ciri fisik berkaki kurus dan panjang dengan tubuh bertotol-totol. Tubuhnya berukuran kecil, panjangnya antara 30 hingga 50 mm. Kulit belakang berwarna hijau terang, ungu dan merah, ada bintik-bintik berwarna pada kulit belakang tidak rata tetapi seperti batu kerikil atau mirip kutil.
Selain itu, nama pelangi yang kemudian disematkan pada sambas stream toad. Karena, pada kulitnya mempunyai pola warna hijau terang, ungu dan merah. Dari ciri tersebutlah, kalau katak yang ditemukan di Gunung Nyiut, Kabupaten Landak, adalah katak pelangi.
Saat ditemukan, sepertinya ia sedang berkamuflase mengikuti warna helai daun tempatnya bertengger. Kamuflase sendiri merupakan cara satwa untuk mengelabui musuhnya. Katak pelangi ini memang aktif di malam hari di sekitar sungai yang berbatu-batu atau stream. (")
Baca Juga: Sosok I Made Urip, Anggota DPR Terlama, Kang Dedi Mulyadi Memberi Julukan Unik
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim