Suara Denpasar - Rencana perpanjangan masa jabatan kepala desa menjadi 9 tahun terus menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat karena dinilai sebagai kemunduran demokrasi.
Salah satunya adalah akademisi dari Universitas Udayana Bali, Efatha Filomeno Borromeu Duarte. Dia menilai apabila perpanjangan masa jabatan kades ini benar direalisasikan maka bisa berbahaya bagi demokrasi.
"Demokrasi ini muncul untuk menghentikan kekuasaan yang tidak terbatas, kalau misalkan rencana perpanjangan masa jabatan ini sampai lolos maka otomatis ada apokalisme (penyingkapan) demokrasi dan tentunya terjadi degradasi nilai-nilai terhadap demokrasi itu sendiri," jelas Efatha.
"Kita tidak boleh lupa bahwa semangat demokrasi adalah menciptakan inovasi. Kalau sampai memperpanjang otomatis kaderisasi lambat, menghambat inovasi dan kekuasaan tersebut bisa saja menjadi dinasti," sambungnya.
Founder Malleum Iustitiae Institute itu mengatakan bahwa tuntutan dari para kepala desa tersebut merupakan hak dan sudah dilindungi dalam konstitusi. Akan tetapi kata dia mestinya bukan pada perpanjangan masa jabatan tetapi soal kesejahteraan.
"Yang menjadi kontroversi itu karena keinginan mereka menjabat 9 tahun padahal dalam undang-undang nomor 6 tahun 2004 itu kan sudah dijelaskan tentang masa jabatan kepala desa bisa menjabat sampai 3 periode."
"Maka akan lebih elok bagaimana pengemasan dari harapan-harapan tuntutan itu tidak terkait dengan masa jabatan, tetapi lebih tepatnya dengan kesejahteraan, alokasi dana desa, bimbingan dari pusat terkait pembangunan desa dan lain-lain. Tapi kalau soal perpanjangan masa jabatan menurut saya ini sama sekali tidak elok," pungkasnya. (*/Dinda)
Berita Terkait
-
'Siapa Bohirnya?' Sosok di Balik Demo Kades Minta Perpanjang Masa Jabatan Dicurigai
-
Profil Hoho Alkaf, Sosok Kepala Desa Bertato Asal Banjarnegara yang Viral
-
Bisa Suburkan Politik Dinasti, Perpanjangan Masa Jabatan Kades Dinilai Berbahaya
-
Keuntungan dan Kerugian Perpanjangan Masa Jabatan Kades 9 Tahun
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Krisis PPPK di NTT: 9.000 Pegawai Terancam Putus Kontrak Masal
-
Di Balik Cloud Storage, Ada Biaya Lingkungan yang Harus Kita Bayar
-
Jerman 'Impor' Tenaga Kerja India: Solusi di Tengah Tsunami Pensiun
-
7 Rekomendasi Sepatu Jalan Nyaman untuk Traveling Agar Kaki Tidak Cepat Pegal
-
Tak Masalah Dilaporkan ke Dewas KPK, Deputi Penindakan dan Eksekusi: Bentuk Kepedulian Masyarakat
-
Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
-
Israel Perluas Serangan ke Lebanon, Begini Sejarahnya!
-
Dari Eco-Pesantren Hingga Teologi Hijau: Cara NU dan Muhammadiyah Mengubah Iman Jadi Aksi Lingkungan
-
Mutasi Kabais Tak Transparan, Imparsial Cium Upaya Putus Rantai Komando di Kasus Andrie Yunus
-
Pesona Yamaha Fazzio Starry Night yang Bisa Jadi Pilihan Menarik Skutik Perkotaan