Suara Denpasar - Dunia sedang bergejolak belakangan ini. Setelah Israel, kini ribuan orang dari Serikat Buruh Transportasi Publik di Jerman turun ke jalan pada hari Senin, (27/3/2023). Mereka (dari Serikat Buruh) menuntut kenaikan upah yang layak.
"Pekerja transportasi Jerman melakukan pemogokan terbesar dalam beberapa dekade, karena ekonomi Eropa terhuyung-huyung dari inflasi yang mencapai 9,3 persen pada bulan Februari," tulis laporan Al Jazeera, dilansir Suara Denpasar, Selasa, (28/3/2023).
Serikat Buruh yang menjadi pelopor demonstrasi adalah serikat pekerja Verdi dan EVG (serikat kereta api). Menurut informasi, Serikat Buruh Verdi ini mewakili sekitar 2,5 juta pekerja di sektor publik, termasuk transportasi umum dan di bandara.
Sementara Serikat Buruh EVG, mewakili sekitar 230.000 pekerja di Deutsche Bahn dan perusahaan bus. Dan aksi demonstrasi yang dilakukan keduanya membuat Bandara dan Stasiun berhenti beroperasi selama 24 jam.
Bandara itu termasuk Munich dan Frankfurt, yang merupakan dua Bandara terbesar di Jerman. Keduanya menangguhkan penerbangan, sementara layanan kereta api juga turut dibatalkan oleh operator kereta api Deutsche Bahn.
Untuk diketahui bahwa Jerman sangat bergantung pada Rusia untuk pasokan gas. Namun, adanya perang dengan Ukraina, membuat harga komoditi tersebut menjadi naik menjulang.
Akhirnya, oleh karena mencari sumber energi baru, tingkat inflasi Jerman telah melampaui rata-rata kawasan Eropa dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagai informasi bahwa ribuan massa dari Serikat Buruh yang mogok mengenakan rompi hijau, merah, dan oranye. Dalam aksinya, mereka meniup terompet dan peluit, mengangkat spanduk protes, dan mengibarkan bendera Serikat Buruh.
Yang mengerikan, pemogokan mereka membuat jutaan orang di Jerman harus beradaptasi sehari tanpa transportasi reguler, meskipun sebetulnya masih ada beberapa rute yang tetap dibuka.
Dan pemogokan ini merupakan rangkaian dari gelombang pemogokan buruh yang terjadi di negara-negara Eropa dalam beberapa bulan terakhir, termasuk Prancis dan Inggris.
Protes terhadap Presiden Emmanuel Macron belakangan misalnya, telah memicu aksi demonstrasi yang penuh kekerasan di jalanan. Dan bagi Prancis, hal ini merupakan peristiwa terburuk dalam beberapa tahun terakhir. (*/Dinda)
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat
-
Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi
-
Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?
-
Ketika Gaji Hanya Singgah, Anak Muda Makin Belajar Menjaga Nilai Uang
-
Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Sinopsis My Dearest Assassin, Film Thailand Penuh Aksi dan Romansa yang Tayang di Netflix
-
Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan
-
Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati