Suara Denpasar - Belakangan, isu penolakan datangnya timnas Israel untuk Piala Dunia U-20 mendapat sorotan khalayak luas. Salah satu yang kukuh menolak adalah Gubernur Bali I Wayan Koster.
Alasan I Wayan Koster sendiri sebetulnya masuk akal. Bahwa kedatangan timnas Israel ini bertentangan dengan kebijakan politik pemerintah Indonesia.
Pasalnya, jelas tercantum dalam konstitusi. Suatu hal yang juga disadari I Wayan Koster bahwa Republik Indonesia menentang segala bentuk penjajahan di dunia. Sementara Israel, kita tahu, hingga sekarang masih menjajah Palestina.
"Kan, Israel itu melakukan gangguan, penjajahan terhadap Palestina," kata I Wayan Koster, dilansir dari Suara.com, Selasa, (4/4/2023).
Lebih lanjut, I Wayan Koster juga berpendapat, senada dengan sejumlah penentang yang tidak menghendaki kehadiran timnas Israel, bahwa negara tersebut tidak menghormati kedaulatan dan kemanusiaan rakyat Palestina.
Dan kita tahu, bahwa I Wayan Koster sedang berupaya melanjutkan prinsip serta ideologi yang digariskan oleh Bung Karno sebagai Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sementara terdapat pula alasan lainnya atas penolakan timnas Israel. Yakni, kedatangan mereka di Bali berpotensi menimbulkan kekacauan, dan mengancam keselamatan masyarakat Pulau Dewata.
Di saat yang sama, Pemerintah Israel sendiri dikabarkan sedang dihadapkan pada krisis internal. Ditandai dengan rencana Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir untuk mendirikan garda nasional.
Garda nasional disinyalir jadi bagian untuk memenangkan dukungan Ben-Gvir dalam menangguhkan pemeriksaan yudisial yang direncanakan pemerintah setelah protes rakyat Israel selama berminggu-minggu.
Baca Juga: Tuai Kritikan, Gubernur Bali I Wayan Koster Minta Masyarakat Hormati Putusan FIFA
Seorang analis bernama Rafi Reznik, postdoctoral fellow di Jerusalem's Van Leer Institute, mengatakan bahwa garda nasional merupakan tanggapan terhadap tumbuhnya perasaan bahwa kejahatan terhadap Palestina tidak dianggap sebagai masalah serius bagi Israel.
"Hal ini ditandai semakin redupnya prospek negara Palestina dan Israel melanjutkan pendudukan dan pemukiman ilegal di Tepi Barat," ungkapnya.
“Saya pikir agendanya [Ben-Gvir] adalah untuk mengalihkan [dari] rasa takut akan perlawanan [yang dilakukan oleh] rakyat Palestina, yang secara geografis berbeda, dan mengubahnya menjadi rasa takut terhadap penjahat yang ada di antara sesama mereka [Israel],” kata Reznik.
“Garda nasional membantu menerjemahkannya menjadi tindakan,” tutupnya. (*/Dinda)
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Tunduk di Tangan Jepang, Tunisia Jadi Tim Ketiga yang 'Mudik'
-
Sisi Lain Piala Dunia 2026: Mengapa Fanwar di Media Sosial Susah Diredam?
-
Grace Natalie Pamer Kaos Jokowi Berjaket PSI, Isyarat Gabung Makin Kuat
-
Saham BBCA Diserbu Asing, Target Harganya Bisa Capai Segini
-
Sukseskan Program Presiden, Mendagri Tinjau Program BSPS di Jayapura
-
Apakah Pompa Air Boleh Nyala Terus? Ini Cara Merawat yang Benar agar Awet
-
Modal Pistol Korek Api, Mahasiswa di Bekasi Nekat Rampok Minimarket Rp12 Juta
-
4 Perusahaan Ini Bakal Lakukan PHK, Lebih dari 5.000 Pekerja Terdampak
-
IHSG Diprediksi di Zona Hijau, Ini 3 Saham Pilihan yang Wajib Dipantau Pekan Ini
-
Bisnis Kedai Kopi Makin Ketat, Konsep 'Rumah Kedua' Jadi Senjata Bertahan