/
Senin, 22 Mei 2023 | 00:33 WIB
Sindir Ridwan Kamil? Dedi Mulyadi Tegaskan Jadi Kader Golkar dari Bawah: Saya Sampai Sakit (IST)

Ketikajadi anggota DPRD Purwakarta, Kang Dedi bekerja sungguh-sungguh. Bahkan masuk kantor pada Pukul 05.00.. Dia menyiapkan konsep, agenda rapat, sering turun ke rakyat.

"Tiap Jumat, (salat) Jumatan di desa. Kalau ada kurban, kurban di desa itu, kalau ada rezeki, rezeki dikasih di desa itu, ngurus para kiai, guru ngaji, tokoh masyarakat, ngurus bantuan jalan," tandasnya.

Kang Dedi juga menggagas agar guru honorer diangkat oleh Pemda. Sehingga bisa digaji lewat anggaran daerah. Dia ikut menggagas agar guru honor di daerah terpencil yang hanya lulusan SMEA diangkat jadi guru.

"Jadi itu gagasan saya," terangnya.

Pada waktu itu, Kang Dedi tidak memiliki istri. Dia juga harus merawat anaknya, Maula Akbar. Pasalnya, sang istri, Sri Mulyawati meninggal dunia tiga bulan usai melahirkan Maula Akbar.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Kang Dedi diusung agar menjad wakil bupati. Dia terpilih mendampingi bupati Lily Hambali.

Kesempatan menjadi wakil bupati tidak dia sia-siakan. Meski akses dalam pengelolaan anggaran terbatas, Kang Dedi rajin turun ke masyarakat, bahkan tak segan tidur di rumah warga. Sehingga dia sangat dikenal masyarakat di tingkat bawah.

"Kondangan tidak pernah berhenti, ke yang meninggal, tahlilan ikut, ikut membantu desa, ikut kerja bakti," paparnya.

Modal keterkenalan ini berlanjut saat Pilkada 2008, dia diusung untuk menjadi calon bupati. Dia menang. Calon bupati petahana kalah.

Baca Juga: Tinggalkan Golkar, Maula Akbar, Putra Sulung Dedi Mulyadi Disemangati Kekasih, Diana Limbong

Pada Pilkada Purwakarta 2013, dia mencalonkan diri jadi bupati lagi. Menang lagi, dan berakhir pada 2018. Berkahnya, sang istri, Anne Ratna Mustika menang dalam Pilkada Purwakarta 2018. 

Kang Dedii gagal jadi cawagub di Pilkada Jabar 2018. Namun, dia mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI Dapil Jabar VI (Subang, Karawang, Purwakarta).

Poinnya adalah bahwa dia memiliki idealisme bahwa organisasi harus selalu memberi ruang terbuka bagi para kadernya untuk berkompetisi secara sehat. Katanya, organisasi yang demikianlah yang bertahan sepanjang masa.

"Karena regenerasi perkaderan akan terus terlahir dengan baik," jelasnya.

Selain dalam jabatan publik, di dalam partai, Kang Dedi juga merangkak dar bawah. Setelah jadi wakil sekretaris Golkar Purwakarta, dia dipercaya sebagai sekretaris Golkar Purwakarta, kemudian menjadi ketua DPD Golkar Purwakarta, lalu jadi ketua DPD I Golkar Jawa Barat. Dan terakhir di Golkar, sebelum akhirnya hengkang ke Gerindra, dia menjabat sebagai pengurus DPP Golkar.

"Saya senang ruang kompetisi secara terbuka, karena di situ orang-orang yang memiliki kualifikasi terbaik akan menjadi yang terdepan. Itulah berpolitik," paparnya.

Load More