Suara Denpasar - Kapolda Bali Irjen Putu Jayan Danu Putra dan Gubernur Bali Wayan Koster dianggap blunder lantaran melarang masyarakat memviralkan aksi tak senonoh turis di Bali.
Pelarangan itu disampaikan saat jumpa pers di Rumah Dinas Gubernur Bali Jayasabha, Minggu (28/5). Menurut Kapolda dan Gubernur Bali hal tersebut bisa merusak citra Bali karena pasti dilihat oleh masyarakat dunia.
Bahkan diancam bisa dipenjarakan dengan dikenakan undang-undang ITE bagi masyarakat yang memviralkan aksi tak senonoh para turis. Menurut Putu Jayan dan Wayan Koster sebaiknya dilaporkan kepada pihak yang berwajib, dibanding memviralkan.
Menanggapi hal tersebut, Niluh Djelantik mengatakan apa yang disampaikan Putu Jayan dan Wayan Koster tidak sesuai dengan kinerja. Menurut Niluh Djelantik masyarakat memviralkan karena banyak laporan yang diabaikan.
"Kalau melaporkan ada manfaatnya dan tindaklanjutnya, masyarakat dengan senang hati akan lapor. Kenapa diviralkan? Karena laporan masyarakat dicuekin. Memangnya Bapak ada wadahnya? Masa mesti bolak balik kantor polisi lapor? Dengan risiko dicuekin pula," kata Niluh melalui postingan Instagramnya, dikutip Suara Denpasar, Senin (29/5/2023).
Bagi Niluh mestinya dibuat dulu call centre biar masyarakat bisa mengirimkan laporan dan foto atau video via WhatsApp.
Selain itu kata Niluh, buat payung hukum berisi kategori pelanggaran. Pelanggaran mana yang ditegur, didenda, ditahan atau dideportasi. Kemudian bekerja sama dengan Kemenparekraf (Kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif) agar setiap turis yang akan masuk ke Bali wajib mendoanload buku Does and Doesn't.
Menurutnya hal yang justru memalukan adalah ketika Koster menolak Timnas Israel hadir di Bali, sementara turis dari Israel disambut dengan baik.
"Hal yang harusnya memalukan Bali adalah ketika Gubernur nya menolak timnas Israel hadir di Bali sementara turis-turis kalian sambut dengan baik. Turis-turis malah punya jaringan bisnis hebat di Bali. Anda lupa Rusia juga negara penjajah?
Malu juga saat Gubernur nya melindungi Palestina dari penjajah tapi membiarkan daerahnya sendiri dijajah turis asing yang bebas bisnis di Bali tanpa izin, gak bayar pajak dan merebut mata pencaharian warga Bali," tandas Niluh Djelantik. (*/Dinda)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran
-
Sinopsis Film Suamiku Lukaku, Kisah Pilu Acha Septriasa Hadapi KDRT dari Baim Wong
-
Persis Solo vs Persebaya di Stadion Manahan, Polisi Siaga Penuh
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Viral! Ditanya Cita-cita, Bupati Cianjur: Cepat Meninggal Masuk Surga, Lieur di Dunia
-
Cedera Tak Kunjung Sembuh, Bek Borussia Dortmund Pilih Langkah Mengejutkan
-
35 Kode Redeem FC Mobile Aktif 7 Mei 2026, Klaim Star Shards dan Pemain OVR Tinggi
-
Laga Hidup Mati Kontra Adhyaksa FC, Rahmad Darwan 'Bakar' Semangat Pemain Persipura
-
Alih Fungsi Kali Ciputat Jadi Bintaro Xchange Mall Diduga Cacat Hukum dan Salah Gunakan Wewenang