Suara Denpasar - Pemain Timnas Indonesia, Shayne Pattynama sebut pindah kewarganegaraan dari Belanda ke Indonesia adalah hal yang rumit.
Shayne Pattynama resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada Selasa (24/1), di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), DKI Jakarta setelah Ia diambil sumpahnya.
Setelah resmi menjadi warga negara Indonesia, Shayne Pattynama baru sekali membela Timnas Indonesia, yakni saat menghadapi Argentina pada pertandingan bertajuk FIFA Matchday.
Sebelum berkewarganegaraan Indonesia, Shayne Pattynama ungkap proses naturalisasinya terlalu rumit. Bahkan, Proses pindah kewarganegaraan pemain berusia 24 tahun itu menghabiskan waktu hingga satu setengah tahun.
“Pada akhirnya ternyata sangat rumit. April berganti Juni, Juni berganti Oktober dan pada akhirnya kami hampir satu setengah tahun kemudian," ujar Shayne.
Selain proses kepindahan kewarganegaraan menghabiskan waktu yang cukup lama, kesabaran pemain Viking FK itu juga diuji lantaran harus bolak-balik dari Belanda ke Indonesia.
"Saya harus memberikan segala macam surat-surat, termasuk akte kelahiran ayah saya. Saya terbang ke Indonesia tiga kali untuk pergi ke kedutaan untuk mendapatkan surat-surat tertentu. Kesabaran saya diuji," tambah Pattynama.
Shayne Pattynama mengungkapkan bahwa orang Belanda mengajukan paspor Indonesia merupakan kejadian langka.
"Jarang terjadi orang Belanda mengajukan paspor Indonesia, jadi seiring waktu saya memperhitungkan bahwa itu akan memakan waktu lebih lama," pungkasnya. (*/Dinda)
Tag
Berita Terkait
-
Serang Balik, Media Malaysia Bandingkan Hasil FIFA Matchday Timnas Indonesia, 'Posisi kami bisa dibanggakan'
-
Bek Ipswich Town Elkan Baggott Ungkap Alasan Pilih Bela Timnas Indonesia, Saddil Ramdani Kena Colek
-
Disambut Baik oleh Stefano Lilipaly dan Marc Klok di Timnas, Shayne Pattynama Bakal Susul Keduanya Bermain di Liga 1?
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Sore di Pantai, Berburu Produk Lokal hingga Menikmati Musik di WKND Market PIK2
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026