/
Senin, 10 Juli 2023 | 09:15 WIB
Jurnalisme Lingkungan di Tengah Pemanasan Global, 20 Wartawan Bali Diberi Pelatihan

Suara Denpasar - Wartawan dituntut untuk aktif terhadap isu lingkungan. Yakni menulis tentang isu lingkungan terutama yang terkait dengan lingkungan hidup agar lebih berkelanjutan.

Terkait itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengutus 20 wartawan untuk mengikuti pelatihan penulisan isu lingkungan yang diselenggarakan oleh A+Communication di Tuban, Kuta, Bali, Sabtu (8/7/2023).

Mohammad Burhanudin, salah satu narasumber dalam pelatihan itu membawakan materi "Jurnalisme Lingkungan di Tengah Pemanasan Global".

Dia mengatakan, menulis berita tentang lingkungan hidup jelas berbeda dengan straight news. Karena membutuhkan data serta analisis yang kuat, karena itu tentu membutuhkan waktu.

"Membuat berita lingkungan hidup memang tidak secepat membuat 'straight news' karena membutuhkan data-data dan analisis yang mendalam, dan ini memakan waktu yang cukup lama," kata Mohammad Burhanudin.

Mantan wartawan Kompas itu menjelaskan bahwa jurnalisme lingkungan bukan hanya sekadar memberitakan isu lingkungan, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas pemberitaan lingkungan yang kerap kurang mendalam tentang fenomena lingkungan yang kompleks.

"Sebelum adanya jurnalisme lingkungan, berita lingkungan dalam media cenderung spesifik, dangkal, dan hanya berfokus pada peristiwa atau seremoni semata," tegasnya.

Burhanudin menambahkan, jurnalisme lingkungan merupakan upaya untuk membuat liputan tentang isu lingkungan yang kompleks. Memang tentu ada risiko yang harus dihadapi oleh wartawan saat peliputan secara langsung di lapangan. 

Namun kata dia, isu lingkungan menjadi salah satu tanggungjawab wartawan agar memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak jangka pendek dan panjang akibat dari lingkungan yang rusak. 

Baca Juga: Inara Rusli Lepas Cadar, Wartawan Serempak Takjub: Masyaallah!

Kepada 20 wartawan tersebut, Burhanudin menjelaskan perbedaan antara jurnalisme lingkungan dan berita lingkungan. Dikatakannya jurnalisme lingkungan melibatkan penelitian, verifikasi, penulisan, produksi, dan penyiaran berita atau cerita tentang lingkungan kepada publik. Karena itu wartawan harus memiliki pengetahuan yang kuat tentang lingkungan. 

"Sedangkan berita lingkungan adalah informasi seputar lingkungan (berita sehari-hari) diluar peran jurnalis lingkungan dan dapat mencakup laporan langsung oleh saksi mata, advokasi lingkungan, dan/atau advokasi anti-lingkungan," jelas Burhanudin, yang juga menjabat sebagai Konsultan Komunikasi Yayasan KEHATI.

Untuk diketahui "Sustainable Week" bagi wartawan merupakan rangkaian acara Bali In Your Hands Sustainable Weeks, yang mengangkat tema "Berbagi Ilmu yang Menyenangkan tentang Prinsip Bisnis Berkelanjutan pada Industri UMKM".

Pelatuhan itu dipandu oleh Sari Latief (Pengacara Bisnis/Former Jurnalis Berita Satu), serta menghadirkan narasumber lain seperti Pangesti Boedhiman, Penasihat Senior Komunikasi Perusahaan & Pemimpin Perubahan Iklim/Former Jurnalis Femina, dan Gracia Lenita, Manajer Komunikasi Pemasaran PT. Jetwings Travel. (*/Dinda)

Load More