Depok.suara.com - Kematian merupakan hal yang hampir ditakuti semua orang. Meski kematian adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, kesiapan untuk menghadapinya perlu dipertanyakan.
Sebuah riset menunjukan, bahwa terdapat sebuah cara untuk mengatasi kecemasan terhadap kematian. Mati suri atau psikedelik dapat mengubah pandangan seseorang terhadap kematian.
Mengutip dari Vice, profesor jurusan psikiatri dan ilmu saraf di Fakultas kedokteran Universitas Johns Hopkins, Roland Griffith membuktikan ini lewat survei online melibatkan lebih dari 3.000 orang yang pernah mati suri.
Sejumlah responden melaporkan, bahwa ada perubahan sikap saat berurusan dengan kematian. Termasuk, berkurangnya rasa takut mati.
Sementara itu, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE, Griffith menyebutkan, ada keanehan dalam survei ini. Ia perlu mengecek, apakah responden benar-benar mengalami mati suri atau hanya sedang berada dibawah pengaruh obat-obatan.
“Ada tumpang tindih besar sehubungan dengan fenomenologi, yaitu kualitas pengalaman, serta atribusi yang bertahan untuk pengalaman itu, baik dalam pengalaman nyaris mati atau keluar dari tubuh [astral projection] yang tidak berkaitan dengan obat-obatan, versus pengalaman psikedelik,” imbuhnya.
Griffith mengatakan, sering kali orang memiliki pandangan yang berbeda tentang kematian. Pandangan tersebut, lanjutnya, biasanya berkaitan dengan apa yang terjadi setelah kematian.
“Orang yang mengalami mati suri merasa ada kualitas penuh kebajikan yang muncul, dan mereka yakin kematian bukanlah akhir dari segalanya,” ucapnya.
Berkaitan dengan penelitiannya, Griffith juga pernah melakukan terapi psilocybin pada pasien kanker yang depresi. Karena, penyakitnya dapat mengancam jiwa. Hasilnya, tidak jauh berbeda dengan orang yang pernah mengalami mati suri.
Baca Juga: Mendag Zulhas Beberkan Tiga Biang Kerok Penyebab Harga Telur Ayam Mahal
“Selain meredakan depresi dan kegelisahan, terapinya juga mengurangi rasa takut mati," ungkap Griffith.
Untuk mendapatkan pemahaman lebih luas tentang kesamaannya, para peneliti mengajak hampir 16.000 responden untuk mengisi survei online yang menanyakan seputar perubahan keyakinan tentang kematian yang dikaitkan dengan tiga jenis pengalaman. Pertama, pengalaman yang melibatkan konsumsi zat psikoaktif, seperti psilocybin, LSD, ayahuasca atau DMT. Kedua, pengalaman nyaris mati, dan yang terakhir adalah pengalaman luar biasa lainnya yang tidak melibatkan psikedelik.
Dari belasan ribu responden, hanya 3.192 orang yang merampungkan survei dan memenuhi kriteria. 2.259 orang di antaranya masuk kelompok psikedelik, sedangkan 933 orang memiliki pengalaman mengubah hidup yang tidak berkaitan dengan obat-obatan.
Dalam kelompok psikedelik, 40 persen responden memakai LSD (904 orang), 34 persen memakai jamur tahi atau magic mushroom (766 orang), 12 persen memakai ayahuasca (282 orang) dan 14 persennya lagi merokok/mengisap DMT selain ayahuasca (307 orang). Dalam kelompok “non-drug”, separuh responden melaporkan pernah mati suri, sedangkan separuhnya lagi mengalami sensasi keluar dari tubuh yang tidak membahayakan keselamatan mereka.
Berdasarkan jawaban yang diterima, responden dari kedua kelompok tak lagi setakut dulu berkat pengalaman mereka. Kendati demikian, ada perbedaan menarik baik di antara maupun di dalam kelompok-kelompok tersebut.
Contohnya, anggota kelompok “non-drug” lebih cenderung menganggapnya sebagai “pengalaman paling berharga dalam hidup mereka”, jika dibandingkan dengan kelompok psikedelik. Sementara itu, cara pemakaian obat memengaruhi perbedaan dalam kelompok psikedelik.
“Walaupun kami secara statistik mengontrol perbedaan demografis, ayahuasca cenderung digunakan dalam kegiatan upacara dan secara bersama-sama, jadi mungkin ada bias yang lebih besar terhadap ekspektasi metafisik dan semacamnya. Mungkin memang ada perbedaan, tapi saya pikir kita masih bisa memisahkannya," pungkas Griffith.
Sumber Vice
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
- 25 Pengemis Haji Gocap di Kebayoran Baru Dikirim ke Panti Sosial
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Tunggakan Rp14,8 Miliar, 303 Pemain Belum Digaji: Ada Klub Raffi Ahmad Rans FC
-
Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI
-
Alasan Ada Agenda Lain, Anggota DPR Satori Mangkir dari Pemeriksaan KPK
-
Persib Lolos ACL Two dengan Drama! Mariano Peralta Jadi Pahlawan di Menit-Menit Akhir
-
Cegah Risiko Pidana, Pakar Sebut Pemerintah Tepat Atur Pembelian Timah Rakyat
-
Desak Pelaku Pengeroyok Bambang Setiawan Ditangkap, Wamen HAM: Harus Ditindak Tegas!
-
Dedi Mulyadi: Uang Pajak Warga Depok Siap Disulap Jadi Flyover dan Underpass
-
Setengah Karhutla Terjadi di Wilayah Korporasi yang Izinnya dari Negara!
-
Sikap Bupati Bogor Usai KPK Masuk Pemkab: Serahkan Proses Hukum dan Hargai Praduga Tak Bersalah
-
Padam Setelah 30 Jam, Kebakaran Pabrik Plastik di Serang Telan Kerugian Rp41 Miliar