/
Sabtu, 22 Oktober 2022 | 09:43 WIB
Krisis di Inggris membuat banyak orang mengemis

Depok.suara.com - Krisis resesi ekonomi yang terjadi di Inggris pasca meninggalnya Ratu Elizabeth kian parah. Kehidupan warga terus terpengaruh akibat biaya hidup yang meroket, tak terkecuali para diaspora Indonesia yang hidup di sana.

Fransiscus (35), salah satu mahasiswa penerima beasiswa yang sedang menempuh pendidikan S3 di Universitas Glasgow, menyuarakan keprihatinan yang menimpa diaspora Indonesia di Inggris saat ini.

Fransiscus beserta istri dan kedua anaknya mengaku kesulitan untuk mencari tempat tinggal sesaat setelah tiba di Inggris. Ia mengatakan inilah yang menjadi masalah utama yang dihadapi pelajar dari Indonesia saat ini.

"Untuk saat ini situasi masih aman, hanya memang beberapa minggu lalu pada saat kita datang agak kesulitan untuk mencari rumah untuk disewakan," katanya mengutip dari CNBC, Kamis (21/10/2022).

Ia juga menjelaskan, bahwa mahasiswa Indonesia harus memiliki penjamin atau guarantor saat ingin mencari tempat tinggal. Padahal, biaya untuk menyewa seorang guarantor tidaklah murah.

"Kita sebagai student yang ingin sewa selalu dimintakan guarantor, di mana walaupun kita bisa bayar dimuka selama beberapa bulan namun mereka menolak, apalagi kalau kita statusnya bawa keluarga," jelasnya.

Namun Fransiscus juga menjelaskan ada cara lain untuk mendapat sewa selain menggunakan jasa guarantor, yakni dengan memberikan bank statement rekening bank di Inggris selama 3 hingga 6 bulan. Sayangnya, kata Fransiscus, untuk mendapatkan hal ini juga cukup sulit.

"Untuk bisa dapat sewa, pilihannya kasih bank statement 3 atau 6 bulan atau punya guarantor. Tapi untuk punya rekening bank Inggris juga sulit, di mana kita bisa baru dapat rekening 3 bulan hingga 3 tahun setelah coba apply. Ini yang sulit," ucapnya.

Fransiscus mengungkapkan, kesulitan hidup WNI di Inggris karena disepelekan. Inggris khawatir jika WNI tidak bisa menghasilkan pendapatan yang memadai saat hidup di Inggris.

Baca Juga: Kejuaraan Dunia Junior 2022 : Kalah dari Taiwan, Indonesia Terhenti di Semifinal

"Ini krisisnya bukan dari Inggris, tetapi warga Indonesia yang disepelekan. Mereka khawatir WNI gak bisa menghasilkan income di sana, makanya seperti dipersulit," katanya.

Fransiscus merasakan adanya perbedaan perlakuan dari Inggris terhadap pelajar dari Indonesia dan Afrika dengan pelajar dari China, India, dan Malaysia. Ia mengaku pelajar dari India lebih mudah mendapatkan sewa tempat tinggal tanpa perlu guarantor.

"Saya kaget lihat orang India lebih mudah dapat sewa tanpa guarantor, sementara keadaannya berbeda dengan pelajar dari Indonesia dan Afrika. Kita cari datang sendiri, semuanya sendiri. Cuaca juga ekstrim, bertahan hidup agak susah," katanya.

Banyak WNI, kata Fransiscus, yang merasa kesulitan dan terhambat karena harga sewa tempat tinggal dekat kampus harganya mahal. Kami, lanjutnya, dapat budget beasiswa di bawah seribu pound, sementara harga sewa di sini dua ribu pound.

"Saya merasa sebagai diaspora, kurangnya bantuan secara diplomatik untuk menjamin kami semua yang kuliah dan tinggal untuk kemajuan bangsa. Mohon bantuan diplomatik dari RI ke Inggris untuk tidak pakai guarantor yang mahal," pungkasnya.

Load More