/
Rabu, 22 Februari 2023 | 12:31 WIB
Bela Ibu-ibu Pengajian, Komentar Telak Mama Dedeh hingga Rocky Gerung Balas Sindiran Megawati. (YouTube: BKKBN Official)

"Ibu saya hampir 80 tahun, masih ikut pengajian 2-4 kali seminggu. Punya sembilan anak. Kami semua diurus dengan baik sehingga 6 (anak) lulus S1 . UI, satu Unpad, satu Unibraw, satu PTS di Bandung.” tulis Arsul melalui akun Twitter miliknya.

Politikus PPP itu juga menangkis kegelisahan Mega atas gemarnya ibu-ibu ikut pengajian.  Dia menganggap hal itu tidak akan terjadi karena jutaan ibu di Indonesia bisa mengurus anaknya dengan sebaik-baiknya.

"Yang dikhawatirkan Bu Megawati tidak terjadi. Saya yakin ratusan ribu bahkan jutaan ibu-ibu lain juga mengurus anak dengan baik seperti ibu saya,” ujar Asrul Sani.

Komentar Menohok Rocky Gerung

Komentar menohok juga disampaikan Rocky Gerung guna menanggapi ucapan Megawati yang disebut-sebut menyindir kegiatan ibu-ibu pengajian.

Menurutnya, Megawati gagal paham soal ibu-ibu yang gemar mengaji karena kegiatan itu sudah menjadi kultur keagamaan yang sudah lama terbentuk di Indonesia. 

"Ibu Mega gagal untuk mengerti bahwa justru keadaan itu kalau diterangkan rakyat bereaksi kan? Misalnya soal ibu-ibu pengajian, itu kan mestinya mengerti bahwa mayoritas ibu-ibu pengajian itu punya kultur yang udah terbentuk,” jelas Rocky melalui kanal Youtube Rocky Gerung Official yang juga bersama Hersubeno Arief dari Forum News Network (FNN), dikutip Senin (20/2/23).

Menurut Rocky, Megawati sangat butuh wong cilik yang mayoritas muslim. 

"Padahal Ibu Mega butuh dukungan dari wong cilik yang juga pasti Muslim kan?" ucapnya.

Baca Juga: 5 Manfaat Menjadikan Musik sebagai Objek Hobi, Baik untuk Kesehatan Mental!

Rocky Gerung menegaskan Megawati memang bukan berbasis wong cilik.

“Dari dulu Bu Mega nggak dekat dengan wong cilik, Ibu Mega adalah anak istana, anak presiden Soekano,” jelas Rocky.

“Ke-wong cilik-an itu ada di Bung Karno bukan di Bu Mega, kalau orang tanya Marhaenisme itu Soekarno yang bergaul dengan rakyat, Ibu Mega tidak, dari sisi biografinya,” tambahnya.

Karena itu, PDIP sangat cocok jika dikaitkan dengan wong cilik dari sisi Soekarno.

“Kalau Bung Karno misalnya masih hidup dia evaluasi kelakuan budaya dan kelakuan ekonomi dari kader PDIP, Bung Karno bakal geleng-geleng kepala, semua pejabat PDIP itu mewah mulai dari jam tangan, mobil, sepatu, dll,” jelasnya.

“Itu bukan tanda mereka pernah turun ke wilayah bandung selatan di mana Bung Karno bertemu Marhaen yang berlumuran lumpur di pinggir sawah. Bahkan dianggap cara menanam padi Puan Marhani nggak ngerti, bagaimana mau bergaul dengan Marhaen."

Load More