Suara.com - Masinis PT KAI Eka Purnama Nurdiansyah memperlihatkan bagaimana proses pengereman kereta api melalui sebuah simulator.
Sistem pengoperasian dan reaksi pengereman pada simulator tersebut sudah diuji dan dibuat mirip dengan aslinya.
Eka menunjukkan bagaimana kereta api tak bisa berhenti mendadak meski sudah dilakukan pengereman.
“Kereta api ini nggak bisa berhenti mendadak. Nih coba aja rem mendadak” kata Eka dikutip dari akun @fakta.indo, Rabu, 29 April 2026.
Saat tuas rem ditarik, terlihat bahwa kereta masih melaju dengan kecepatan tinggi.
“Nih masih ada prosesnya,” kata Eka sambil menunjuk ke arah simulator.
Simulator tersebut menunjukkan bahwa kereta tetap melaju dan tidak bisa berhenti secara mendadak meski sudah direm.
Kereta bahkan baru bisa berhenti setelah jarak ratusan meter.
Lebih lanjut, Eka menjelaskan bahwa semakin tinggi kecepatan kereta, maka waktu yang dibutuhkan untuk membuat kereta berhenti semakin lama.
Baca Juga: Potret Dirut KAI Bobby Rasyidin Terduduk Lesu di Depan Kereta Ringsek Bikin Pilu
“Dan semakin cepat ya artinya semakin lama lagi untuk berhenti,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Eka juga memperingati masyarakat agar tetap disiplin dan waspada saat akan melintasi perlintasan kereta.
Selain itu, masyarakat juga dihimbau agar bisa mendahulukan perjalanan kereta api karena alat transportasi massal itu tidak bisa berhenti mendadak seperti alat transportasi lainnya.
“Bagi pengguna jalan harus mendahulukan perjalanan kereta api. Di sini artinya keselamatan itu milik kita bersama” ujar Eka.
Melansir dari situs resmi KAI, terdapat dua faktor yang menjadi alasan mengapa kereta api tidak bisa berhenti mendadak.
Faktor utama adalah panjang serta berat rangkaian kereta. Semakin panjang dan berat kereta, maka semakin besar pula jarak yang dibutuhkan untuk berhenti total.
Berita Terkait
-
Vietnam Sampaikan Duka atas Kecelakaan KRL di Bekasi, Presiden To Lam Kirim Pesan ke Prabowo
-
Pemprov DKI Jakarta Percepat Mitigasi Perlintasan Sebidang Pasca Tragedi Bekasi
-
Pendidikan AHY Dikulik, Caranya Tanggapi Tragedi KRL Dinilai Lebih Bijak dari Menteri PPPA
-
5 Fakta Pintu Perlintasan Ampera, Titik Awal Kecelakaan KRL Bekasi Ternyata Tak Punya Palang Resmi
-
Tragedi Stasiun Bekasi Timur: Evaluasi Lintasan Sebidang dan Sistem Sinyal
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim