Hanya Ingin Mendidik! Pembelaan Guru SD yang Viral Cubit Puluhan Kali Siswa Tak Hafal Asmaul Husna

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 15:06 WIB
Pembelaan Guru SD yang Viral Cubit Puluhan Kali Siswa Tak Hafal Asmaul Husna [Istimewa]
  • Guru PAI berinisial DS menghukum fisik siswa SD yang gagal menghafal Asmaul Husna di Batangtoru pada 11 Agustus 2026.
  • Orang tua murid menemukan puluhan bekas luka lebam pada tubuh anak mereka setelah pulang dari sekolah.
  • Guru DS menyampaikan permintaan maaf dan mengakui kesalahannya dalam mediasi bersama para orang tua murid.

Suara.com - Viral kasus dugaan kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru SD di wilayah Batangtoru, Tapanuli Selatan terhadap anak didiknya.

eorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berinisial DS diduga memberikan hukuman fisik kepada siswa yang tidak mampu menghafal Asmaul Husna atau nama-nama baik Allah SWT.

Kasus tersebut terungkap setelah sejumlah orang tua menemukan bekas luka dan lebam pada tubuh anak mereka.

Bahkan, salah seorang siswa mengaku mendapat cubitan hingga sekitar 80 kali sebagai hukuman.

Dari video yang beredar di sosial media, guru DS dipertemukan dengan para orang tua murid untuk dilakukan mediasi.

Mediasi dilakukan di Aula Hunian Sementara (Huntara) Garoga, Desa Napa, Batangtoru, Selasa (11/8/2026).

Salah seorang orang tua, Makruf Siregar, mengaku terkejut ketika melihat kondisi tubuh anaknya.

Saat anaknya hendak mandi, ia menemukan banyak bekas luka yang disebut berasal dari cubitan.

"Waktu itu, anak saya mau mandi ke pancur. Terus saya lihat ada banyak bekas luka lebam di tubuhnya. Ada puluhan cubitan merah," kata Makruf.

DS membantah memiliki niat untuk menyakiti ataupun melakukan perundungan terhadap para siswa. Ia mengatakan hukuman tersebut dilakukan dengan maksud mendidik.

"Saya sebenarnya hanya ingin mendidik anak bapak ibu semua. Tidak ada niat saya sedikit pun membully, menganiaya," ujar DS dalam mediasi.

Meski demikian, DS mengakui tindakan tersebut merupakan kesalahan.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada para orang tua dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

"Ini menjadi pembelajaran pertama dan terakhir kalinya. Saya mohon kepada bapak ibu agar berkenan hati untuk menerima kekhilafan saya. Saya akui tindakan saya ini sudah salah," katanya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com