- Pedangdut Inul Daratista secara terbuka menolak berbagai tawaran fasilitas mewah untuk masuk ke dunia politik.
- Inul Daratista melontarkan kritik pedas terhadap gaya hidup mewah oknum pejabat yang mengabaikan kepentingan rakyat.
- Inul Daratista menyampaikan doa dan dukungan moral bagi masyarakat yang mengikuti demonstrasi besar di Jakarta pada 27 Agustus 2026.
Suara.com - Pedangdut Inul Daratista kembali mencuri perhatian publik melalui unggahan terbaru di akun media sosialnya.
Si Goyang Ngebor ini secara blak-blakan mengungkapkan alasannya tetap konsisten menolak berbagai tawaran untuk terjun ke dunia politik, mulai dari kursi parlemen hingga jabatan kepala daerah.
Dalam pernyataannya, Inul mengaku sudah sering dirayu untuk masuk ke partai politik dengan iming-iming fasilitas mewah.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya dijanjikan dukungan penuh, bimbingan (mentoring), hingga gaji besar yang bebas pajak.
"Dari dulu memang enggak tertarik dirayu masuk parlemen. Dirayu akan di-back up dari belakang, dimentorin biar pinter, gaji dan pajak bebas, fasilitas lengkap, tunjangan meningkat, dijamin semua pokoknya," tulis Inul.
Namun, semua tawaran menggiurkan tersebut tidak menggoyahkan pendiriannya.
Inul mengaku lebih nyaman berada di posisi sebagai "wong cilik" dan merasa tidak memiliki kapasitas pendidikan yang cukup untuk menjadi pejabat.
Ia juga mengutarakan kekhawatirannya akan dinamika politik yang kejam.
"Aku enggak tergiur jabatan sebab aku tetep di posisi wong cilik, takut jadi umpan politik dan makanan empuk tumbal keadaan dan kondisi saat rawan. Sekolahku aja ga pinter, cukuplah jadi warga yang baik saja," ujar istr Adam Suseno ini.
Sindir Rekan Artis dan Kritik Kinerja Pejabat
Inul juga membagikan cerita menarik tentang seorang rekan sesama artis yang pernah melarangnya masuk politik karena dianggap berbahaya.
Namun, ironisnya, rekan tersebut justru bergabung dengan partai politik tak lama setelah Pilpres usai.
Tak hanya bicara soal dirinya, Inul juga melontarkan kritik pedas terhadap oknum pejabat yang dinilainya tidak bekerja untuk rakyat.
Ia menyoroti gaya hidup mewah (flexing) para pejabat yang tidak sebanding dengan kualitas kerja dan kecerdasan mereka.
"Kepentingan rakyat adalah nomor satu. Jika yang terjadi darah dan air mata, yang gayanya menter flexing-nya enggak main-main, pintarnya di bawah rata-rata, menangnya karena amplopan duit dan menjilat yang di atas," sindir Inul.