- Hannah Al Rashid mengungkap perjuangan emosional dan kehilangan saat menjalani proses program kehamilan.
- Ia terkejut mengetahui data statistik bahwa satu dari enam perempuan Indonesia mengalami kondisi serupa.
- Sikap tegarnya dalam menolak miskonsepsi kegagalan perempuan menuai banyak pujian dari warganet.
Suara.com - Jejak digital Hannah Al Rashid untuk mendapatkan keturunan tengah menjadi sorotan hangat dan viral di media sosial. Dalam sebuah wawancara, Hannah mengungkap kisah mendalam mengenai perjuangannya mendapatkan garis 2 yang penuh dengan lika-liku emosional.
Perjalanan Hannah tidak hanya melibatkan perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan batin yang luar biasa ketika harus berhadapan dengan kenyataan pahit berupa kehilangan.
"Aku banyak banget teman yang udah akhirnya coba IVF dan melewati journey itu eh banyak teman yang merasakan kehilangan, aku juga pernah merasakan kehilangan gitu," ungkap Hannah dalam video yang viral di X.
Ketegaran yang ditunjukkan Hannah dalam menghadapi masa-masa sulit tersebut menuai banyak pujian dari publik. Banyak orang merasa tersentuh dengan pengakuan jujur mengenai rasa sunyi yang dialami selama menjalani proses tersebut.
Pengalaman pribadi tentang kehilangan yang dirasakan secara langsung, serta bagaimana menghadapi kenyataan bahwa banyak teman dekat yang juga merasakan kehilangan serupa dalam perjalanan IVF mereka, menjadi sebuah cerita yang sangat menyentuh hati banyak orang.
Dalam penuturannya, diungkapkan pula rasa terkejut yang mendalam saat pertama kali mengetahui sebuah data statistik yang ada di Indonesia. Statistik tersebut menunjukkan bahwa 1 dari 6 perempuan di Indonesia ternyata melewati perjuangan atau kondisi yang sama.
Keterkejutan ini muncul karena pada saat menjalani proses tersebut secara pribadi, muncul perasaan yang sangat sepi dan terasing, seolah-olah perjuangan berat ini hanya dialami sendirian tanpa ada orang lain yang merasakan hal serupa.
"Jadi, em memang yang awalnya waktu dikasih tahu kayak statistik 1 dari 6 perempuan Indonesia itu aku cukup kaget karena eh saat diriku aja misalnya melewati itu I felt very alone," tutur Hannah.
Alih-alih menyerah pada keadaan, sikap tegar untuk terus melangkah maju dan memandang proses ini dari sudut pandang yang berbeda menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lain yang sedang berjuang di jalan yang sama.
"Itu sering di ini adalah miskonsepsi tapi sering digambarkan sebagai sebuah kegagalan sebagai perempuan kalau misalnya tidak bisa punya anak atau memberi anak kepada pasangannya gitu. Tapi I don't see it as a failure, I see it just as another process of life gitu dan lewat film ini kita diberi kesempatan untuk changing that narrative gitu bahwa kegagalan yang utama tuh adalah di saat lo give up," lanjutnya.
Salah satu poin penting yang disoroti dalam jejak digital tersebut adalah adanya miskonsepsi yang sering kali berkembang di tengah masyarakat luas. Selama ini, ketidakmampuan seorang perempuan untuk memiliki anak atau memberikan keturunan kepada pasangannya kerap kali digambarkan secara keliru sebagai sebuah bentuk kegagalan sebagai seorang perempuan.
Namun, pandangan miring tersebut ditolak dengan tegas oleh Hannah. Alih-alih menganggapnya sebagai kegagalan, proses sulit ini dipandang secara bijak sebagai bagian dari proses kehidupan yang memang harus dilewati.
Ketegaran Hannah langsung ramai menuai pujian dari warganet.
"Hannah benar-benar wanita yang kuat dan tegar. Salut sih dia itu selalu jadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak wanita dan isu-isu seputarnya di satu sisi dia juga melewati masalah pribadi dengan sembuh sendiri," puji warganet.
"Sedih ya dengernya kalau masalah gini sering hal tersebut disalahkan ke cewek. Mbak Hannah kamu tetap jadi wanita dan gak ada yang gagal cuma karena belum hamil, seperti yang dr. Gia bilang 'rahim itu area Tuhan'. Semoga lukanya cepet pulih mba walaupun gak bakal ilang," komentar warganet.
"Gak gampang tetep vokal bela orang lain pas luka sendiri belum beneran beres. Butuh kekuatan mental gila sih buat jalanin dua hal itu barengan," puji warganet.