Suara.com - Dikaruniai tanah subur dan sumber daya alam yang melimpah, sejak dulu Indonesia telah dikenal sebagai penghasil tanaman rempah-rempah, salah satunya buah pala (Myristica fragrans).
Ketika rempah-rempah, termasuk pala menjadi komoditas penting dalam perdagangan dunia, negara-negara Eropa seperti Portugis, Spanyol dan Belanda saling berebut untuk menguasai komoditas yang dapat berfungsi sebagai penghangat tubuh tersebut.
Meski tidak setenar dulu, buah pala asal Indonesia masih menjadi primadona rempah-rempah di dunia saat ini. Hal tersebut ditunjukkan masih banyaknya permintaan ekspor buah pala dan produk turunannya dari sejumlah negara lain.
Pala dipercaya dapat mengobati beberapa jenis gangguan kesehatan mulai dari masuk angin, hingga diabetes. Meskipun kini dunia pengobatan telah berkembang ke era yang lebih modern, manfaat pala sebagai obat herbal masih sangat diminati bahkan di Eropa.
Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, perkembangan ekspor pala dunia pada tahun 2014 tercatat mencapai 650,64 juta dolar AS atau naik sebesar 2,78 persen dibandingkan dengan ekspor pala pada 2013 yang sebesar 633,02 juta dolar AS.
Di salah satu bagian kaki Gunung Ungaran, tepatnya di Kebun Ngobo, Afdeling Gebugan, Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, si legendaris buah pala masih menjadi komoditas yang terus diproduksi. Kebun seluas 166 hektare yang kini dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX tersebut memproduksi buah pala sejak 1913.
Setiap pagi sebanyak 60 buruh yang merupakan warga sekitar kebun memanen buah pala yang telah berumur empat hingga lima bulan. Dengan cekatan dan keahlian yang mumpuni, para buruh tersebut memanjat pohon pala berketinggian 15 hingga 20 meter.
Dengan menggunakan alat pengait dan bambu panjang, para buruh memetik buah pala yang juga banyak ditanam di Kepulauan Banda, Maluku, dan Papua. Setelah buah pala dipisahkan dari kulitnya, dikeringkan hingga mencapai kadar air 20 persen. Pengeringan bisa dilakukan dengan menggunakan hawa panas dari tungku kayu bakar atau di bawah sinar matahari.
Biji-biji pala kering kemudian dihancurkan dan dimasukkan ke dalam ketel uap untuk diproses secara kondensasi. Dari pipa kondensor (pendingin) akan menetes minyak dan air hasil penyulingan. Air dan minyak yang menetes dalam 'florentine flask' dipisahkan dengan membuka kran alat pemisah minyak utama dan pemisah minyak tambahan.
Setiap bulan perkebunan dan pabrik yang berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (MDPL) ini menghasilkan rata-rata dua ton biji pala dan 500 hingga 600 liter minyak atsiri. Dari hasil olahan tersebut, minyak pala dijual sebagai bahan baku industri obat-obatan, parfum, dan kosmetik.
Foto dan Teks: [Antara/Aditya Pradana Putra]
Tag
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
-
Prabowo Tunjuk Juda Agung jadi Wamenkeu, Adies Kadir Resmi Jabat Hakim MK
-
Lakukan Operasi Senyap di Bea Cukai, KPK Amankan 17 Orang
-
Juda Agung Tiba di Istana Kepresidenan, Mau Dilantik Jadi Wamenkeu?
-
Viral Dugaan Penganiayaan Mahasiswa, UNISA Tegaskan Sanksi Tanpa Toleransi
Terkini
-
Tanggul Sungai Nglangak Jebol, Ratusan Rumah di Kudus Terendam Banjir
-
Prabowo Resmi Lantik Hakim MK Adies Kadir dan Wamenkeu Juda Agung di Istana Negara
-
Jelang Imlek, Pohon Jeruk Kim kit dan Chusa Ramai Diburu Warga
-
Teluk Kendari Dibersihkan dari 30 Bangkai Kapal Ikan Terbengkalai
-
Waduh, Api Abadi Mrapen yang Pernah Nyalakan Obor Asian Games Kini Padam
-
Melihat Wajah Baru Pasar Kombongan Usai Direvitalisasi
-
Bencana Pergerakan Tanah Rusak Puluhan Rumah di Kabupaten Bogor
-
Belum bangkit, IHSG Ditutup Anjlok 4,88 Persen ke Level 7.922
-
Prabowo Buka Rakornas Pemerintah 2026, Bahas Evaluasi 2025 hingga Target Ekonomi
-
AMSI Gandeng Deep Intelligence Research untuk Perkuat Jurnalisme Berbasis Data