Foto / News
Kamis, 30 Juli 2026 | 08:00 WIB
Foto udara area persawahan yang masih tertimbun material kayu dan lumpur bencana hidrometeorologi di Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Rabu (29/7/2026). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj]
Seorang warga memperlihatkan area persawahan miliknya yang tertimbun material kayu dan lumpur bencana hidrometeorologi di Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Rabu (29/7/2026). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj]
Seorang warga membersihkan material kayu bencana hidrometeorologi di area persawahan Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Rabu (29/7/2026). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj]

Suara.com - Foto udara area persawahan yang masih tertimbun material kayu dan lumpur bencana hidrometeorologi di Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Aceh, Rabu (29/7/2026).

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra mencatat hingga 27 Juli 2026, realisasi anggaran untuk optimasi lahan terdampak bencana, rehabilitasi sawah, pembangunan infrastruktur irigasi dan jalan usaha tani di Aceh mencapai Rp 231,27 miliar atau 44,9 persen dari total pagu Rp 515,22 miliar.

Pemerintah menargetkan percepatan pemulihan sektor pertanian melalui rehabilitasi sawah, perbaikan jaringan irigasi, serta pembangunan jalan usaha tani agar lahan terdampak dapat kembali produktif dan mendukung ketahanan pangan di wilayah Aceh.

Satgas PRR menyatakan Aceh mulai memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi pada akhir Juli 2026. Tahap ini difokuskan pada percepatan pemulihan infrastruktur, lahan pertanian, dan permukiman warga yang terdampak bencana hidrometeorologi.
[ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj]

Load More