Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Foto udara api membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Warga berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Warga mengendarai sepeda motor saat melintas di samping api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Warga berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Foto udara api membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
Suara.com - Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana hidrometeorologi yang paling banyak terjadi di Indonesia sejak awal tahun hingga 7 September 2026 yakni sebanyak 627 kali kejadian dari total 1.739 kejadian bencana.
Peningkatan risiko karhutla dipengaruhi kondisi cuaca kering dan fenomena El Niño yang membuat musim kemarau lebih panjang. BMKG menyebut September masih menjadi fase kritis dengan potensi kebakaran tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.
Selain menghanguskan lahan, karhutla juga berpotensi menurunkan kualitas udara akibat sebaran asap. Pemerintah memperkuat pemantauan titik panas, patroli, pemadaman darat, water bombing dan operasi modifikasi cuaca untuk menekan penyebaran api. [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]