/
Senin, 28 November 2022 | 09:35 WIB
Saida Mouh, Ibunda Achraf Hakimi (@achrafhakimi)

Tidak seperti pemain lain yang biasanya mendatangi pasangannya begitu tim meraih kemenangan, Achraf Hakimi memilih untuk mendatangi seorang wanita tua berhijab metalik usai pertandingan Belgia vs Maroko pada matchday kedua grup F Piala Dunia 2022, Minggu (27/11). 

Hakimi lantas memberikan kecupan di kening wanita berhijab metalik tersebut. Mendapat kecupan dari Hakimi, tampak air mata mengembang terlihat di wajah wanita tua itu. 

Ia pun membalas dengan mencium pipi dari pemain PSG tersebut. Adegan ini begitu menguras air mata. Diketahui wanita tua berhijab metalik itu ialah Saida Mouh

Wanita tua ini di mata Hakimi adalah wanita tercantik di dunia. Saidah ialah ibunda dari Hakimi. Buat Hakimi, Saidah adalah segalanya. 

Penghargaan besar diberikan Hakimi kepada Saidah yang banting tulang demi bisa mewujudkan mimpi pemain 24 tahun itu. Ya, Hakimi mengatakan ia berlatar belakang keluarga miskin, menjadi pesepak bola hanya mimpi baginya. 

"Bahwa saya berlatih dan bermain sepak bola adalah mimpi bagi saya dan pengorbanan mereka (orang tua)," ucap Hakimi seperti dilansir dari depor.com

Sadia Mouh adalah wanita asli Maroko. Ia menikah dengan seorang pria bernama Hassan Hakimi. Dari pernikahan itu lahir dua anak laki-laki, Nabil dan Achraf, serta satu anak perempuan, Quidad. 

Meski asli Maroko, Sadia dan suaminya ternyata kelahiran Madrid, Spanyol. Hassan adalah kekasih Sadia sejak muda. 

Meski hidup dengan segela keterbatasan, cinta dan kasih sayang begitu besar diantara Saidah dan Hassan. 

Baca Juga: Ivan Zamorano Jagokan Spanyol ke Final Piala Dunia 2022, Lawannya Tim dari Amerika, Siapa?

Tiap harinya Saidah bangun pagi dan membersihkan rumah serta menyiapkan segala kebutuhan untuk suami dan anak-anaknya. 

Sementara Hassan, berkeliling di jalanan Maroko untuk menawarkan produk. Hassan berprofesi sebagai salesman keliling. 

"Ibuku membersihkan rumah, ayah saya adalah seorang salesman keliling," ucap Hakimi. 

Perjuangan berat dilalui pasangan suami istri ini. Saat kehidupan di Maroko tak banyak membuat perubahan, keduanya memutuskan untuk pindah ke Spanyol. 

Mereka berharap saat di Spanyol, kehidupan ekonomi mereka lebih baik. Namun kenyataan tak seindah harapan. Saidah dan Hassan lebih berat berjuang di Spanyol. 

Di Spanyol, Hassan alih profesi menjadi pedagang kaki lima sementara Saidah demi membantu keuangan suami bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). 

Load More