Suara.com - Mata merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting. Tanpa mata, kita tak bisa melihat keindahan alam semesta dan berbagai pengetahuan yang begitu kaya.
Tak hanya itu, mata ternyata juga bisa mencerminkan kepribadian dan risiko penyakit yang bisa diderita oleh seseorang.
Berikut lanjutan dari artikel sebelumnya yang membahas tentang apa saja yang dapat dideteksi dari mata.
3. Jendela jiwa dan kepribadian
Sebuah studi yang dilakukan di Australia menemukan bahwa orang dengan mata yang lebih terang cenderung kurang "menyenangkan," dan jauh lebih kompetitif, daripada orang dengan mata gelap. Keramahan adalah faktor kepribadian yang biasanya terkait dengan empati, kemurahan hati dan kasih sayang. Setelah memeriksa 336 peserta, peneliti dari dua universitas yang berbeda di Australia menemukan bahwa orang dengan mata gelap lebih "menyenangkan" daripada orang dengan mata biru.
4. Kepercayaan
Dalam penelitian terbaru, para peneliti menilai foto-foto wajah dari 40 mahasiswi dan 40 laki-laki untuk menganalisis tingkat kepercayaan dari mata mereka. Orang bermata coklat menurut peneliti lebih bisa dipercaya daripada orang dengan mata biru. Tapi tingkat kepercayaan seseorang bisa juga dipengaruhi oleh bentuk wajah.
"Meskipun orang bermata coklat dianggap lebih dapat dipercaya daripada yang bermata biru, tapi bukan hanya warna yang menyebabkan persepsi kepercayaan yang kuat melainkan dipengaruhi juga dengan fitur wajah yang berhubungan dengan mata coklat," kata peneliti.
5. Penyakit, usia, dan trauma
Selain itu, beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan spesifik antara warna mata dengan penyakit seperti diabetes, melanoma, dan vitiligo. Sebuah penelitian pada 2012 dari Universitas Colorado School of Medicine menemukan bahwa orang dengan mata biru cenderung memiliki vitiligo yakni kondisi kulit yang menyebabkan bercak putih di beberapa bagian tubuh.
Studi ini meneliti 3.000 orang Amerika keturunan Eropa non-Hispanik yang memiliki vitiligo, dan menemukan bahwa 43 persen memiliki mata coklat, sedangkan 27 persen memiliki warna biru atau abu-abu. Mata seseorang bisa berubah warna yang dipengaruhi kondisi heterochromia yang dapat menjadi indikasi penyakit tertentu, seperti Sindrom Horner, hingga glukoma.
Selain itu, orang-orang penderita diabetes stadium akhir biasanya memiliki warna yang gelap pada mata mereka. Memiliki mata yang lebih terang juga berarti lebih sensitif terhadap sinar UV matahari, karena mereka mengandung sedikit pigmen untuk melindungi mereka. (Medical Daily)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya