- Kajian IHDC menemukan bahwa partisipasi kesehatan di Indonesia belum inklusif.
- Terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan masyarakat miskin.
- Rendahnya partisipasi berdampak pada penundaan pengobatan, beban kuratif meningkat, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan.
Suara.com - Dalam membangun dunia kesehatan yang baik, tidak berpatok pada sistem atau infrastruktur yang baik saja, tetapi juga adanya partisipasi dari banyak pihak.
Partisipasi ini sangat berpengaruh dari berbagai hal mulai dari keadilan akses, kualitas layanan, dan kepercayaan publik. Hal ini terlihat dalam kajian ilmiah Indonesia Health Development Center (IHDC) bertajuk Partisipasi Kesehatan sebagai Ideologi Kesehatan Bangsa.
Ketua Dewan Pembina IHDC Prof Nila F Moeloek mengungkap, masih banyak beberapa hambatan yang dirasakan seperti pada kelompok perempuan, masyarakat miskin, penyandang disabilitas, pasien penyakit kronis dan menular, serta masyarakat di wilayah terpencil.
“Dari kajian IHDC kami menyimpulkan bahwa partisipasi kesehatan di Indonesia masih belum inklusif,”ujar Prof Nila dalam media diskusi, Jumat (2/1/2026).
Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Kajian, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengungkap, sumber risiko rendahnya partisipasi masyarakat Indonesia yang dikaji antara lain:
Isu perempuan, seharusnya menjadi pusat partisipasi kesehatan karena lebih dari 70 persen mereka memegang keputusan kesehatan keluarga.
“Perempuan ini menjadi salah satu yang memegang keputusan kesehatan dalam keluarga. Tapi masih lemah keterlibatan strategisnya dalam Musrenbang dan perencanaan kesehatan,” ungkap Dr. Ray.
Isu kelompok miskin dan marjinal, dengan tingkat keterlibatan forum kesehatan kurang dari 40 persen, dan hanya sekitar 25 persen usulan yang terakomodasi. Isu penyandang disabilitas, kurang dari 20 persen terlibat dalam forum layanan publik.
“Bahkan penyandang disabilitas kurang dari 20 persen mereka pernah terlibat dalam forum layanan publik,” sambungnya.
Baca Juga: Update Iuran BPJS Kesehatan Tiap Kelas Tahun 2026, Menkeu Buka Suara
Tak hanya itu, isu stigma dan diskriminasi, pada HIV, TBC, dan kesehatan jiwa yang menghambat tes, terapi, dan retensi layanan. Terdapat juga isu ketimpangan geospasial, di mana partisipasi di wilayah tertinggal hanya sekitar 30–35 persen, dengan waktu tempuh rujukan bisa mencapai 2–4 jam.
Isu lainnya yakni desa dan keluarga, sebagai lokus partisipasi, namun belum optimal dimanfaatkan dalam Musrenbangdes dan perencanaan berbasis data kesehatan lokal.
Dari lemahnya partisipasi ini, memberikan dampak mulai dari tingginya fenomena penundaan pengobatan dan ketidakpatuhan terapi, rendahnya perilaku promotif dan preventif, meningkatnya beban kuratif dan pembiayaan kesehatan, serta menurunnya kepercayaan publik, yang tercermin dari meningkatnya praktik berobat ke luar negeri.
Prod Nila dan Dr. Ray melalui IHDC sendiri merekomendasikan strategi 9 Pilar Solusi dan 5 Instrumen Penguatan Partisipasi Kesehatan yang diharapkan menjadi kerangka strategis nasional.
9 Pilar Solusi:
1. Pendekatan partisipatif terstruktur berbasis gotong royong
2. Partisipasi kualitatif berbasis pengalaman hidup masyarakat
3. Community-Led Monitoring (CLM)
4. Evidence-Based Participatory Practice
5. Penguatan kepercayaan (trust building)
6. Pemanfaatan media sosial dan digitalisasi
7. Indikator akses berbasis geospasial
8. Pendekatan berbasis desa
9. Pendekatan berbasis keluarga dan rumah tangga
5 Instrumen Penguatan Partisipasi Kesehatan:
1. Agen partisipatori berbasis komunitas (Posyandu, Puskesmas, dokter keluarga)
2. Pengembangan Indeks Partisipasi Kesehatan (responsivitas, kepuasan, akses, reliabilitas data)
3. Pendanaan berbasis komunitas yang berkelanjutan
4. Standar prosedur kerja (SPK) komunitas yang sederhana dan berbasis mutu
5. Perlindungan sistemik dari stigma dan diskriminasi
Pilar dan instrumen ini diharapkan bisa meningkatkan kesehatan dengan banyaknya partisipasi dari berbagai pihak. Dengan begitu Indonesia dapat membangun sistem kesehatan yang baik sekaligus menumbuhkan kepercayaan publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Menkeu Purbaya Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Ramadan
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Murka ke Wasit Majed Al-Shamrani, Bojan Hodak: Kita Akan Lihat!
-
Warga Boyolali Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, Gara-gara Ganti Rugi Waduk Kedungombo Belum Dibayar
-
Persib Bandung Gugur di AFC Champions League Meski Menang Tipis Lawan Ratchaburi FC
-
KPK akan Dalami Dugaan Gratifikasi Jet Pribadi Menag dari Ketum Hanura OSO
-
7 Fakta Viral Warga Sumsel di Kamboja, Mengaku Dijual dan Minta Pulang ke Palembang
Terkini
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi
-
Edukasi dan Inovasi Jadi Kunci Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Gigi dan Mulut Lintas Generasi
-
Multisport, Tren Olahraga yang Menggabungkan Banyak Cabang
-
Tantangan Pasien PJB: Ribuan Anak dari Luar Jawa Butuh Dukungan Lebih dari Sekadar Pengobatan
-
Gen Alpha Dijuluki Generasi Asbun, Dokter Ungkap Kaitannya dengan Gizi dan Mental Health
-
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
-
Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah