Suara.com - Orang yang terinfeksi HIV mungkin tidak menunjukkan gejala apapun selama bertahun-tahun. Namun, kecuali jika diobati, jumlah sel-sel pada sistem imun akan terus menurun.
Tanpa sel-sel tersebut (yang fungsinya membunuh sel yang telah terinfeksi dengan kuman), akan muncul berbagai penyakit berbahaya.
Lantas, bagaimana cara virus HIV menyerang sistem imun?
Human immunodeficiency virus (HIV) menginfeksi sel-sel dari sistem imun. HIV menyebabkan AIDS karena virus menghancurkan sel-sel imun penting yaitu sel CD4 T, namun bagaimana tepatnya sel-sel ini terbunuh tidak diketahui secara pasti.
Setiap harinya, tubuh Anda menghasilkan jutaan sel CD4 T untuk membantu menjaga imunitas dan melawan serangan virus dan kuman. Begitu HIV berada di tubuh Anda, virus dapat membuat salinan terus menerus, meningkatkan kemampuan untuk membunuh sel CD4 T. Kemudian, sel yang terinfeksi mendominasi sel T yang sehat.
Empat Tahapan infeksi HIV
Infeksi HIV menurut data yang dihimpun hellosehat.com biasanya terbagi dalam empat tahap, tergantung bagaimana efek HIV pada sistem imun Anda: infeksi primer akut, infeksi laten klinis, infeksi HIV simptomatis dan perkembangan HIV menjadi AIDS.
1. Tahap infeksi HIV akut
Dalam 2-4 minggu setelah infeksi HIV, banyak orang (namun tidak semua) mengalami gejala yang menyerupai flu, yang merupakan respon alami tubuh terhadap infeksi HIV, seperti demam, pembengkakan kelenjar, radang tenggorokan, ruam, nyeri otot dan sendi, nyeri dan sakit kepala.
Selama periode awal infeksi ini, virus dalam jumlah besar dihasilkan dalam tubuh. Tubuh Anda merespon dengan menghasilkan antibodi HIV dan limfosit sitotoksik (sel T pembunuh yang mencari dan menghancurkan virus atau bakteri). Maka, kadar HIV pada darah akan sangat menurun, serta jumlah sel T CD4+ sedikit melambung.
Selama tahap infeksi HIV akut, Anda berisiko tinggi menularkan HIV pada pasangan seksual dan pengguna obat karena kadar HIV pada aliran darah sangat tinggi. Untuk alasan ini, sangat penting untuk mengurangi risiko penularan.
2. Tahap laten klinis
“Latensi” merupakan periode di mana virus tinggal atau berkembang pada tubuh manusia tanpa menghasilkan gejala atau hanya gejala ringan, karena infeksi tidak menyebabkan gejala atau komplikasi lainnya. Tahap kedua dari infeksi HIV memiliki rata-rata durasi 10 tahun untuk orang yang tidak menjalani pengobatan antiretroviral (ART).
Jika Anda menjalani ART, Anda dapat hidup dengan latensi klinis selama beberapa dekade karena perawatan membantu menjaga virus.
Walau berjumlah sangat sedikit di dalam darah, HIV sangat aktif pada sistem limfa tubuh. Jika Anda memiliki HIV dan tidak menjalani ART, jumlah virus akan mulai meningkat dan jumlah CD4 akan menurun.
Jika hal ini terjadi, Anda dapat mulai memiliki gejala konstitusional dari HIV begitu kadar virus meningkat pada tubuh Anda.
Namun, orang dengan HIV tetap terinfeksi dan dapat menularkan HIV ke orang lain pada fase ini.
3. Infeksi HIV simptomatis
Seiringnya waktu, HIV menghancurkan sistem imun Anda. Apabila jumlah virus terus meningkat ke level yang lebih tinggi, sistem imun akan memburuk. Kondisi kesehatan Anda mencapai tahap yang lebih serius.
Gejala dari tahap infeksi HIV ini meliputi penurunan berat badan dengan cepat, kehilangan ingatan, demam yang kambuh, serta diare yang berlangsung lebih dari seminggu. Apabila perawatan obat anti-HIV tidak bekerja, atau jika seseorang tidak melakukan perawatan, sistem imun akan mulai memburuk dengan cepat.
Dalam tahap ini, infeksi oportunistik juga akan meningkat. Infeksi ini tidak akan menjadi masalah pada orang dengan sistem imun normal, namun pada orang dengan sistem imun yang lemah, infeksi dapat sangat berbahaya. Infeksi dapat disembuhkan, tapi perkembangan penyakit tidak dapat dihentikan.
4. AIDS
AIDS merupakan tahap infeksi HIV yang terjadi saat sistem imun sudah rusak dengan parah dan Anda rentan terhadap infeksi oportunistik. Jumlah sel T CD4+ merosot, serta jumlah virus meningkat dengan signifikan.
Apabila jumlah sel T CD4+ seseorang jatuh di bawah 200 sel per milimeter kubik darah dan pasien didiagnosis dengan kondisi terkait HIV tahap 4 (seperti tuberkulosis, kanker, dan pneumonia),
Begitu HIV berkembang menjadi AIDS, pasien lebih mudah mengalami kematian. Tanpa pengobatan, orang yang mengalami AIDS biasanya bertahan sekitar 3 tahun. Begitu Anda memiliki penyakit oportunistik berbahaya, harapan hidup tanpa perawatan menurun menjadi sekitar 1 tahun.
Untunglah dengan perkembangan pengobatan, harapan hidup orang dengan AIDS meningkat.
Jadi, seperti itulah yang akan terjadi dalam tubuh bila terkena HIV.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi