2. Pergerakan usus yang melambat
Sengaja menahan buang air juga dapat berpotensi merusak mekanisme umpan balik yang berfungsi untuk melancarkan pergerakan usus.
Jika Anda terus-menerus menahan BAB, pergerakan usus bisa melambat dan akhirnya bukan tidak mungkin untuk berhenti sama sekali.
Meskipun tidak diasup makanan, usus tetap memproduksi sedikit cairan encer dan lendir, sehingga usus tidak akan benar-benar kosong.
Selain itu, disadari atau tidak, Anda akan mengencangkan otot-otot panggul dan pantat ketika sengaja menahan refleks untuk buang air besar.
Di saat yang bersamaan, feses yang masih cair dapat menyelinap melewati massa feses yang padat, sehingga membuat gumpalan feses menjadi semakin besar dan akan terasa sangat sakit untuk buang air besar.
Jika Anda terus saja makan seperti biasa tanpa BAB, lambat laun usus besar Anda bisa membengkak akibat penumpukan feses yang mengeras ini. Akibatnya, usus besar bisa terluka atau sobek
3. Infeksi bakteri
Orang-orang selama ini beranggapan bahwa menahan BAB dalam waktu lama sama saja menyimpan tumpukan racun dalam tubuh. Ini benar. Usus besar terus menahan feses di dalamnya sehingga tidak memungkinkan tubuh untuk membuang racun.
Selain itu, Anda juga berisiko mengalami infeksi bakteri ketika ada feses yang bocor keluar melewati luka atau robekan yang ada di usus atau rektum.
Saat usus terinfeksi, bakteri yang semula hidup normal di usus akan mulai berkembang biak dengan cepat.
Usus akan mengalami peradangan dan terisi nanah. Infeksi ini akan menekan usus sehingga menghambat aliran darah mengalir melalui dinding usus. Akibatnya, jaringan usus akan kekurangan darah dan mati secara perlahan.
Proses ini akan terus berlanjut sampai dinding otot usus menjadi sangat tipis dan akhirnya pecah. Ini memungkinkan nanah yang mengandung bakteri di dalam usus tersebut bocor ke bagian perut lainnya. Kondisi ini disebut dengan peritonitis.
Jangan suka menahan BAB!
Sebaiknya segera ke kamar mandi begitu perut mulai terasa melilit. Jika Anda menahan BAB tanpa sengaja karena sulit mengeluarkannya, gunakan obat pencahar atau obat pelunak feses lain untuk merangsang pergerakan usus kembali lancar.
Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter apabila Anda masih mengalami masalah BAB meski sudah minum obat atau memperbaiki pola makan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
- 4 Zodiak Paling Beruntung pada 27 Juni 2026, Siap-siap Jadi Magnet Uang
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
Pilihan
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
Terkini
-
Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini
-
Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga
-
Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis