Suara.com - Saat ini semua orang diharuskan memakai masker untuk melindungi diri dari penularan virus corona Covid-19. Tapi, penggunaan masker terlalu lama disebut bisa mengurangi asupan oksigen manusia.
Beberapa orang mengatakan penggunaan masker justru membuat mereka menghirup karbon dioksida. Kondisi ini bisa menyebabkan mereka pusing, pingsan hingga merasa seolah-olah tercekik.
Banyak orang juga khawatir tentang bahaya penggunaan masker, mengingat sedikitnya oksigen yang dihirup mungkin akan memengaruhi kesehatan.
Lincoln Park, seorang pengemudi di New Jersey yang menabrakkan mobilnya ke tiang mengaku kecelakaan ini disebabkan oleh maskernya.
Ia mengatakan penggunaan masker N95 terlalu lama telah membuatnya pingsan. Sebelumnya, seseorang juga bercerita pingsan di dalam mobil karena memakai masker yang mengurangi asupan oksigen melalui Facebook.
Tapi, pihak kepolisian masih belum meyakini 100 persen bahwa penggunaan masker N95 bisa menyebabkan kecelakaan. Kepolisian menduga ada faktor medis lain yang menyebabkan orang itu pingsan.
Menurut National Institutes of Health (NIH), penggunaan masker bisa sangat berbahaya meski kasus seperti itu jarang terjadi. Penggunaan masker terlalu lama bisa membuat orang menghirup banyak karbon dioksida (CO2) tingkat tinggi yang mengancam jiwa.
Kondisi itu mungkin bisa memicu hiperkapnia (toksitas karbon dioksida) yang juga bisa menyebabkan sakit kepala, vertigo, penglihatan ganda, kesulitan berkonsentrasi, tinitus, kejang hingga mati lemas.
Namun, Bill Carroll, seorang profesor kimia di Universitas Indiana, Bloomington mengatakan, kondisi itu bisa terjadi bila karbon dioksida yang dihirup dalam level tinggi. Jadi, karbon dioksida yang tinggi menyebabkan kerusakan dalam tubuh.
Baca Juga: Catat! 5 Tips Penting Sembunyikan Lemak Perut Saat Gunakan Gaun Pengantin
"CO2 hadir di atmosfer pada tingkat sekitar 0,04 persen. Jumlah itu berbahaya di atmosfer ketika lebih besar dari 10 persen," kata Bill Carroll dikutip dari Health.
Seseorang mungkin juga hanya menghirung sedikit CO2, terutama ketika mengeluarkan napas terlalu cepat dan sering.
"Jika Anda menahan napas, Anda akan menghasilkan terlalu banyak CO2. Masalah intinya adalah CO2 berfungsi mengatur pH darah akibat terlalu banyak CO2, darah terlalu asam dan terlalu banyak basa," jelasnya
Dalam kasus tersebut, tubuh akan mendeteksi perubahan keasaman dan seseorang bisa pingsan. Tapi, sejauh mana masker bisa memengaruhi tingkat CO2 di dalam tubuh tergantung pada bahan dan ketatnya pemakaian masker tersebut.
"Jika Anda menggunakan kantong plastik di kepala dan mengikatnya kencang di leher, maka tidak akan ada virus corona yang masuk, tetapi juga tidak ada oksigen yang bisa masuk. Karena itu seseorang bisa mati lemas," jelas Carroll.
Carrol sendiri meragukan seseorang bisa pingsan hanya karena memakai masker kain yang dipercaya membuatnya kekurangan oksigen.
Berita Terkait
-
3 Masker Gel untuk Kulit Kusam, Bikin Wajah Lebih Segar dan Glowing!
-
5 Rekomendasi Masker Rambut dengan Hasil Bak Keratin di Salon, Auto Lembut dan Berkilau
-
6 Masker Alami untuk Atasi Kulit Kering, Bantu Kulit Lebih Lembap dan Sehat
-
5 Rekomendasi Sheet Mask Kolagen untuk Samarkan Penuaan Usia 40 Tahun
-
5 Sheet Mask Kolagen untuk Usia 40-an, Kulit Jadi Kencang dan Glowing
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya