Suara.com - Penggunaan rokok tembakau disebut dapat memperparah Covid-19, selain penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan asma.
Menurut pakar, tembakau adalah penyebab utama kematian dan penyakit yang dapat dicegah. Rokok pun membunuh separuh dari orang yang menggunakannya.
Tembakau dianggap sebagai faktor risiko bagi banyak infeksi pernapasan dan juga meningkatkan keparahan penyakit pernapasan.
Asap tembakau, termasuk asap bekasnya, mengandung lebih dari 7000 bahan kimia di mana lebih dari 69 di dalamnya dapat menyebabkan kanker.
Zat kimia dalam asap tembakau dapat menekan aktivitas berbagai jenis sel imun yang terlibat dalam respons imun umum dan target.
Mengapa merokok tembakau bisa memperparah Covid-19?
Dilansir The Health Site, merokok dapat merusak fungsi paru-paru, sehingga mengurangi kekebalan tubuh dan membuat lebih sulit bagi tubuh untuk melawan berbagai infeksi.
Baik merokok tembakau maupun rokok elektrik dapat menyebabkan kerusakan saluran udara bagian atas dan mengurangi fungsi kekebalan paru-paru.
Pada akhirnya hal ini akan meningkatkan risiko dan memperburuk tingkat keparahan infeksi paru-paru, termasuk Covid-19.
Baca Juga: Penyederhanaan Struktur Tarif Cukai Mampu Tekan Konsumsi Tembakau
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
Terkini
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19