- Irma Ivana Christiani menekankan bahwa pendidikan inklusif harus mencakup penyiapan lingkungan belajar, tenaga pendidik, dan pendampingan anak secara menyeluruh.
- Tingginya prevalensi anak dengan autisme dan ADHD di Indonesia menuntut sekolah menyediakan lingkungan belajar yang ramah bagi setiap individu.
- Sekolah inklusif yang ideal wajib melibatkan tenaga profesional, memantau perkembangan individual anak, serta menjalin kolaborasi aktif dengan orang tua murid.
Suara.com - Sebelum tahun ajaran baru dimulai, banyak orang tua disibukkan dengan memilih sekolah atau tempat pengayaan yang dinilai paling sesuai bagi anak. Namun di tengah semakin banyaknya lembaga yang mengusung label "inklusif", orang tua perlu lebih cermat karena tidak semua benar-benar menerapkan prinsip pendidikan inklusif dalam praktiknya.
Psikolog Atelier of Minds, Irma Ivana Christiani, S.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar menerima anak dengan latar belakang atau kebutuhan belajar yang beragam. Lebih dari itu, inklusivitas harus tercermin dalam cara sekolah merancang lingkungan belajar, menyiapkan tenaga pendidik, hingga mendampingi setiap anak sesuai kebutuhannya.
"Inklusi bukan sekadar kebijakan penerimaan. Inklusi adalah cara sebuah tempat merancang lingkungan, memilih pendekatan, dan melatih timnya setiap hari untuk setiap anak. Orang tua berhak tahu perbedaannya," ujar Irma dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).
Kesadaran akan pentingnya pendidikan inklusif memang semakin meningkat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 2,4 juta anak di Indonesia hidup dengan autisme, sementara prevalensi ADHD diperkirakan mencapai 3–5 persen dari populasi anak usia sekolah. Kondisi ini membuat sekolah dituntut mampu menyediakan lingkungan belajar yang ramah bagi setiap anak, tanpa terkecuali.
Lalu, bagaimana mengenali lingkungan belajar yang benar-benar inklusif? Berikut lima hal yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Program disusun oleh tenaga profesional
Orang tua sebaiknya mencari tahu apakah program pembelajaran dirancang bersama psikolog, terapis okupasi, atau ahli tumbuh kembang anak. Keterlibatan mereka penting agar metode belajar mampu mengakomodasi beragam kebutuhan peserta didik.
"Pemahaman tentang bagaimana anak belajar, memproses informasi, dan meregulasi diri justru membuat lingkungan belajar lebih kaya untuk semua anak," jelas Irma.
2. Inklusivitas tidak berhenti pada slogan
Baca Juga: Tak Sekadar Kuliah, WNI Kini Mulai Melirik New Zealand untuk Membangun Karier Global
Sekolah yang benar-benar inklusif tidak memisahkan anak berdasarkan kemampuan belajarnya. Sebaliknya, mereka memberikan dukungan yang berbeda sesuai kebutuhan setiap anak agar dapat belajar bersama dalam lingkungan yang sama.
3. Mengenali setiap anak sebagai individu
Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, sekolah idealnya melakukan asesmen awal, memantau perkembangan secara berkala, serta memberikan laporan perkembangan yang komprehensif kepada orang tua.
"Tanpa pemahaman individual yang mendalam, program terbaik sekalipun hanya akan efektif bagi anak-anak yang sudah mudah beradaptasi," kata Irma.
4. Cara sekolah memandang anak menjadi cerminan budaya inklusif
Orang tua juga perlu memperhatikan bagaimana guru atau tenaga pendidik berbicara tentang anak yang dianggap "sulit". Lingkungan belajar yang inklusif melihat perilaku anak sebagai bentuk komunikasi yang perlu dipahami, bukan sekadar masalah yang harus dihukum atau dikendalikan.
5. Orang tua menjadi bagian dari proses belajar
Pendidikan tidak berhenti di sekolah. Karena itu, komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga menjadi salah satu indikator penting lingkungan belajar yang sehat. Sekolah yang inklusif akan melibatkan orang tua dalam memantau perkembangan anak dan memberikan strategi yang dapat diterapkan di rumah.
"Apapun yang dibangun di lingkungan belajar hanya akan berlipat ganda dampaknya jika ada kesinambungan di rumah. Orang tua adalah mitra kami yang paling penting karena merekalah yang paling mengenal anak mereka," tutup Irma.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu