Suara.com - Seperti kebanyakan vaksin, suntikan Covid-19 datang dengan beberapa efek samping ringan seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan, kelelahan dan sakit kepala. Sekarang, ada efek samping lain yang dilaporkan khususnya untuk vaksin Covid-19 Moderna, yakni lesi merah besar di sekitar tempat suntikan yang disebut dengan Covid-Arm.
"Tampaknya ini adalah reaksi alergi. reaksi kulit yang terjadi setelah mendapatkan suntikan," kata ahli kulit bersertifikat Debra Jaliman, MD, yang memiliki praktik pribadi di Manhattan, New York City kepada Health.
"Kami melihat kekencangan dan kemerahan di tempat suntikan terjadi," imbuhnya.
Beberapa orang yang pernah mengalami efek ini juga melaporkan mengalami rasa gatal dan mengatakan lesi tersebut menyakitkan untuk disentuh.
"Biasanya, ini muncul 5 sampai 9 hari setelah suntikan pertama," kata Dr. Jaliman. Hal ini yang membuatnya berbeda dari kebanyakan efek samping vaksin yang biasanya terjadi dalam satu atau dua hari.
Melansir dari Health, Para ahli masih mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi kemungkinan itu hanyalah bagian dari respons sistem kekebalan tubuh terhadap vaksin.
"Kami ingin meyakinkan orang bahwa ini adalah fenomena yang umum," kata Esther Freeman, MD, direktur dermatologi kesehatan global di Rumah Sakit Umum Massachusetts kepada USA Today.
"Ruam akan hilang dalam waktu 24 jam hingga seminggu," imbuhnya.
Menurut pertemuan Komite Penasihat CDC untuk Praktik Imunisasi pada 27 Januari, 77 persen dari efek samping vaksin Moderna dilaporkan oleh wanita, dengan usia rata-rata 43 tahun. Wanita juga lebih mungkin dibandingkan pria untuk melaporkan efek samping dari vaksin.
Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 SMDK Tabanan Ditargetkan Rampung 24 Februari
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
Terkini
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?