Suara.com - Orang yang obesitas berisiko tinggi alami kondisi parah jika terinfeksi Covid-19. Kenapa bisa begitu?
Ketua umum Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) DR. dr. Nurpudji Taslim. Sp.KG.(K), MPH., menyampaikan bahwa obesitas sebenarnya termasuk penyakit kronis.
Sehingga seseorang dengan komorbid obesitas bisa berisiko masuk ICU bahkan menyebabkan kematian jika terinfeksi Covid-19.
"Obesitas ini sudah termasuk penyakit kronis, di mana terjadi inflamasi pada pasien dengan obesitas yang menderita Covid. Terjadi mekanisme dalam hal ini fungsi metabolik, gangguan sistem imun, dan adanya inflamasi. Ini semua akan berdampak besar pada orang tersebut," jelas dokter Pudji dalam webinar perayaan Hari Obesitas Sedunia, Rabu (3/3/2021).
Gangguan metabolisme tubuh yang disebabkan karena obesitas tersebut pada akhirnya berdampak pada disfungsi sistem pernapasan. Dokter Pudji menjelaskan, gangguan itu yang kemudian membuat pasien Covid dengan obesitas mengalami peningkatan hipoksia (kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan) juga menyebabkan paru-paru tidak berfungsi dengan baik.
Selain itu, seseorang yang obesitas kebanyakan juga diikuti dengan penyakit kronis lainnya. Seperti hipertensi, kardiovaskuler, diabetes melitus, penyakit ginjal, hingga liver.
"Semua ini akan memperberat. Jadi risikonya akan semakin naik. Dampaknya orang-orang yang obesitas kemungkinan besar untuk masuk ke ICU tinggi sekali," ucapnya.
Sementara angka kematian terjadi karena pasien mengalami gagal napas. Kondisi itu yang menyebabkan pasien Covid-19. Oleh sebab itu, dokter Pudji mengingatkan agar orang yang sudah atau berisiko obesitas perlu melakukan pencegahan ganda. Yakni mencegah tidak terpapar Covid-19 juga mencegah tubuh menjadi obesitas.
Pada webinar yang sama, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD., juga menyampaikan bahwa risiko keparahan Covid-19 yang bisa dialami orang obesitas sangat mirip dengan pengidap diabetes tipe 2.
Baca Juga: Kejar Target, Menkes Budi Gunadi Resmikan Vaksinasi Covid-19 Drive Thru
"Pertama dia sendiri sudah ada inflamasi, sudah ada sel radang dengan disregulasi daya tahan tubuh. Jadi daya tahan tubuh ini, kalau sel-sel darah putihnya boleh dikatakan ada yang bersifat inflamasi ada yang bersifat antiinflamasi, keduanya punya keseimbangan. Pada orang diabetes tipe 2, orang obes, keseimbangan ini terganggu," papar dokter Suas.
Pada pengidap kedua penyakit tersebut, akan lebih condong pada proinflamasi. Sehingga, dokter Suas menjelaskan, saat ada infeksi maka inflamasi meledak yang kemudian disebut juga sebagai badai sitokin. Bahan inflamasi jadi begitu hebat sehingga menyebabkan gejala yang timbul juga jadi parah.
"Orang-orang yang obesitas dan diabetes ini yang menyebabkan angka beratnya penyakit atau kematian yang jauh lebih tinggi," ucap dokter Suas.
Tag
Berita Terkait
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Fenomena Food Noise yang Bikin Indonesia Peringkat ke-3 di Asia Tenggara
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien