Suara.com - Partai oposisi utama India menyerukan penguncian atau lockdown nasional penuh tidak lama setelah negara tersebut melaporkan lebih dari 20 juta infeksi virus corona Covid-19.
Menurut juru bicara partai Kongres Nasonal India, layanan kesehatan di negaranya sudah runtuh secara virtual sehingga perlu diterapkan lockdown nasional untuk memutus rantai penularan.
"Kami sekarang dipaksa, tidak ada pilihan, (kami) harus menggunakan penguncian nasional untuk memutus rantai, untuk memulihkan beberapa ketertiban di layanan kesehatan," kata seorang juru bicara Kongres, dilansir BBC pada Rabu (5/5/2021).
Pemimpin senior partai tersebut, Rahul Gandhi, juga mencuit bahwa penguncian merupakan satu-satunya pilihan karena kurangnya strategi dari pemerintah.
"Sebaliknya, mereka mengizinkan, secara aktif membantu virus mencapai tahap sekarang di mana tidak ada cara lain untuk menghentikannya. Sebuah kejahatan telah dilakukan terhadap India," kata Gandhi dalam cuitannya, Selasa (4/5/2021).
Seruan untuk penutupan nasional kedua juga datang dari para pemimpin bisnis, pakar kesehatan internasional, dan politisi senior lainnya.
Namun, Perdana Menteri India Narendra Modi menolak langkah tersebut karena dampaknya terhadap ekonomi. Menurutnya, pertimbangan pembatasan seharusnya hanya dijadikan pilihan terakhir.
Memang, penguncian menyebabkan output ekonomi India turun dengan rekor 24% antara April dan Juni 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemerintah mengatakan bahwa penguncian nasional lainnya akan memiliki konsekuensi yang mengerikan bagi perekonomian.
Baca Juga: Waspada 3 Varian Baru Virus Corona, Satu Sudah Masuk Kepri
Tahun lalu Modi dikecam keras karena memberlakukan penguncian nasional dengan pemberitahuan kurang dari empat jam. Menyebabkan krisis kemanusiaan karena puluhan ribu pekerja migran tidak memiliki pekerjaan dan terpaksa berjalan ratusan kilometer ke desa asal mereka.
Tetapi banyak negara bagian masih memberlakukan pembatasan. Negara bagian utara Bihar menjadi yang terbaru mengumumkan penguncian penuh. Sementara itu, Delhi, dan Mumbai juga berada di bawah pembatasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak