Suara.com - Pemerintah diminta bersikap lebih keras dan menjadi lebih 'radikal' dalam menangani infeksi Covid-19.
Hal tersebut dikatakan oleh Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra. Ia juga mengatakan bagaimana pemerintah saat ini memiliki dua opsi untuk mengendalikan paparan virus corona.
"Pemerintah harus berani radikal dalam aksinya. Cuma ada dua opsi, PSBB nasional seperti bentuk semula atau regional terbatas pada pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan yang dilakukan secara berkala," katanya dalam webinar Lapor Covid, Minggu (20/6/2021).
PSBB nasional, kata Hermawan, menjadi rencana paling radikal tetapi logis yang bisa dilakukan pemerintah saat ini. Menurutnya, banyak negara di dunia berhasil mengendalikan Covid-19 berkat melakukan lockdown total.
"Baik itu Singapura, Malaysia, Australia, maupun negara besar di Eropa, Amerika. Karena kalau kita begini saja ekonomi terpuruk terus. Dulu kita takut dengan bahasa lockdown karena pengaruhi ekonomi nasional."
"Tapi kira-kira pertanyaan saya berapa duit yang sudah habis untuk 15 bulan berlalu ini? Kan tidak mampu kita ukur. Ketimbang kita lakukan pembatasan berskala besar pada satu waktu, kerugian ekonomi terukur, tapi setelah ini kita akan mudah melakukan economical reborn. Ini yang kita harapkan," paparnya.
Ia menyayangkan bahwa selama 15 bulan terjadi pandemi Covid-19, banyak situasi yang sebenarnya bisa diprediksi tetapi tidak mampu diantisipasi pemerintah.
Dari mulai aspek kebijakan, Hermawan menilai bahwa Indonesia termasuk negara yang belum memiliki kebijakan kuat dalam pengendalian Covid-19.
Tercatat pemerintah hanya menerbitkan aturan melalui PP 21/2020 tentang PSBB. Sayangnya PSBB itu juga hanya diterapkan di tiga provinsi besar, yakni DKI Jakarya, Jawa Barat, dan Sumatera Barat.
Baca Juga: Jangan Khawatir, Peneliti Tegaskan Vaksin Covid-19 Tak Pengaruhi Kesuburan Pria
"Itu pun dengan modifikasi dari PSBB menjadi (PSBB) transisi dan lain-lain. Di level kabupaten/kota hanya 40-an yang melaksanakan PSBB bahkan sekarang bermetamorfosa menjadi PPKM. Tentu saja PPKM sangat berbeda paradigmanya dengan PSBB. PPKM tujuannya bukan memutus mata rantai Covid, tetapi lebih kepada relaksasi jadi memperlambat situasi," tuturnya.
Berlandaskan perspektif kebijakan itu, Hermawan menyebut bahwa Indonesia belum memiliki opsi yang kuat untuk pengendalian Covid-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- 7 Aturan Feng Shui Kamar Tidur yang Baik untuk Rezeki
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?