Suara.com - Keterbatasan ruang gerak selama pandemi membuat banyak orang harus membatasi kegiatannya di luar rumah. Tak jarang, hal ini menimbulkan rasa tertekan yang berujung pada kondisi emotional eating, yakni pola makan yang dilakukan seseorang bukan untuk kebutuhan fisiologis melainkan karena faktor emosi yang sedang dirasakan dan menjadikan kegiatan mengunyah sebagai bentuk pelarian. Hal inilah yang dialami oleh penyanyi Reza Artamevia.
Reza mengaku, pandemi sangat berpengaruh terhadap segala aktivitasnya. Emosi yang meningkat akibat dampak pandemi ini membuatnya beralih ke pola emotional eating.
“Saya sadar bahwa terkadang coping mechanism saya saat sedang penat adalah ngemil dan makan sesuka hati. Kadang saya tetap makan apapun semaunya meskipun tidak merasa lapar. Itu menyebabkan berat badan saya naik hingga 73,4 kg dan membuat saya semakin stres," kata pelantun lagu Berharap Tak Berpisah itu.
Ya, kaum perempuan memang lebih rentan mengalami emotional eating dibandingkan laki-laki. Sebuah penelitian yang diadakan di Finlandia mendukung pernyataan tersebut.
Studi yang melibatkan 5.000 pria dan wanita menunjukan bahwa obesitas dikaitkan dengan pola makan terkait stres pada wanita, tetapi tidak pada pria.
Untuk mengatasi emotional eating-nya, Reza mengikuti program diet D8 dari SKYN Clinic agar bisa hidup lebih sehat dengan berat badan ideal.
“Masalah yang dialami Reza merupakan masalah yang umum terjadi dan semakin meningkat di masa pandemi. Lebih banyak beraktivitas di rumah menyebabkan orang-orang menjadi lebih malas bergerak dan condong untuk melakukan emotional eating daripada menjaga pola makan sehat," terang dr. Cut Hafiah M.Gizi SpGK, AIFOK, FINEM yang merupakan spesialis gizi klinik.
Menurut dr. Cut, selain penting untuk mengelola pikiran agar tidak cepat terpicu emosi, ada baiknya kita melakukan banyak hal yang bisa membantu mengelola emosi, seperti jurnaling, olahraga, dan pastinya komitmen untuk hidup lebih sehat yang bisa dimulai dari menjaga pola makan agar badan tetap ideal.
Program diet D8 dari SKYN Clinic merupakan program yang dipersonalisasi berdasarkan kebutuhan setiap pasiennya dan berkomitmen membantu para pasien untuk turun hingga 35 kg dalam 4 bulan dengan cara yang menyenangkan karena tetap bisa menikmati makanan enak walaupun sedang diet.
“Emotional eating atau stress eating memang salah satu pelarian yang terdengar menyenangkan, tapi berujung penyesalan karena menyebabkan berat badan kita tidak terkontrol. Setelah berat badan naik, biasanya orang-orang merasa ketakutan dan tanpa sadar menunda untuk diet dan melanjutkan pola hidup tidak sehatnya," kata Yoyo Hartoyo, founder SKYN Clinic.
Baca Juga: 6 Cara Mudah Turunkan Berat Badan Tanpa Diet dan Olahraga
SKYN Clinic berfokus pada proses fun tapi tetap sehat dengan personalized diet journey, mulai dari konsultasi, merencanakan menu makanan yang sehat dan disesuaikan dengan gizi yang seimbang dengan menghitung kalori dan komposisi yang tepat bagi setiap pasien untuk mencapai badan ideal mereka, sehingga tidak ada lagi yang namanya diet starts tomorrow.
Program D8 SKYN Clinic mengerti bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, oleh karena itu program diet tidak bisa persis sama untuk semua orang.
Dimulai dari konsultasi atau anamnesis bersama dr. Cut, pasien nanti akan dibuatkan program diet yang tepat sesuai permasalahannya. Kemudian akan direncanakan juga target yang ingin dicapai tanpa membuat pasien tersiksa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Terkini
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal
-
Membangun Benteng Kesehatan Keluarga: Pentingnya Vaksinasi dari Anak hingga Dewasa
-
Pentingnya Dukungan Asupan Nutrisi untuk Mendukung Perkembangan Anak Usia Sekolah
-
Rahasia Mengapa Kepemimpinan Perempuan Jadi Kunci Sukses Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
-
Siap-Siap Lari Sambil Menjelajahi Pesona Heritage dan Kuliner di Jantung Jawa Tengah
-
Time is Muscle: Pentingnya Respons Cepat saat Nyeri Dada untuk Mencegah Kerusakan Jantung
-
Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan
-
Menjaga Hidrasi Saat Puasa, Kunci Tetap Bugar di Tengah Aktivitas Ramadan
-
Puasa Ramadan Jadi Tantangan bagi Penderita Diabetes, Begini Cara Mengelolanya
-
Kulit Sensitif dan Rentan Iritasi, Bayi Butuh Perawatan Khusus Sejak Dini