Suara.com - Menurunnya kasus COVID-19 di Tokyo, Jepang, membuat pemerintah setempat berencana melonggarkan pembatasan yang sudah berlaku sejak beberapa bulan terakhir.
Melansir ANTARA, Pemerintah Metropolitan Tokyo bermaksud untuk melonggarkan pembatasan COVID-19 di bar dan restoran pekan depan.
Pelonggaran itu akan diumumkan pekan dan akan berlaku untuk tempat-tempat usaha yang disertifikasi sebagai bisnis yang mengikuti langkah-langkah pencegahan COVID-19.
Namun, perwakilan pemerintah Tokyo tidak segera menanggapi permintaan komentar dari wartawan.
Tokyo dan sebagian besar wilayah di Jepang mencabut tindakan darurat COVID-19 pada 1 Oktober yang telah berlaku selama hampir enam bulan.
Walaupun demikian, restoran dan bar di ibu kota Tokyo telah diminta untuk menghentikan penjualan alkohol pada pukul 08.00 malam dan tutup pukul 09.00 malam.
Kasus baru harian COVID-19 di Tokyo turun menjadi 29 pada Senin, yakni angka terendah sejak Juni 2020.
Kasus infeksi virus corona telah turun secara dramatis dari gelombang yang mencapai lebih dari 5.000 kasus dalam sehari pada Agustus, yang menghantam infrastruktur layanan medis Tokyo.
Sekitar 67 persen dari populasi Jepang sekarang telah divaksin lengkap, dan pemerintah Jepang berencana untuk meluncurkan suntikan vaksin penguat (booster) pada musim dingin ini.
Baca Juga: Update COVID-19 Jakarta 20 Oktober: Positif 103, Sembuh 142, Meninggal 0
Pada saat yang sama, pihak berwenang Jepang berencana untuk menggunakan kombinasi sertifikat vaksinasi dan tes COVID-19 untuk lebih memudahkan langkah pembatasan dan membuka kembali perekonomian.
Berita Terkait
-
Sinopsis Ladies on Top, Drama Romcom Jepang Dibintangi Shida Kohaku
-
Pejuang Otodidak: Suka Duka Belajar Bahasa Jepang Mandiri dari Nol
-
Cerita Pemain Jepang Yusuke Sasa Main di Tangerang, Depok hingga Jadi Mualaf di Bogor
-
Sinopsis Sins of Kujo, Drama Hukum Jepang Terbaru Yuya Yagira di Netflix
-
Kepolisian Jepang Tangkap Produser XG atas Dugaan Kepemilikan Narkotika
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia