Suara.com - Setiap buah-buahan mengandung sumber nutrisi yang baik untuk kesehatan. Salah satunya pepaya juga telah menjadi buah yang dikonsumsi oleh masyarakat dunia. Buah ini disebut mengandung vitamin C dan vitamin A.
“Pepaya adalah buah berari yang rendah kalori dan kaya akan vitamin C dan A. Memiliki berbagai manfaat kesehatan seperti pencegahan asma dan sifat anti-kanker, buat ini dapat menangkal degenerasi makula,” ungkap Konsultan Ahli Gizi dari Rumah Sakit Ibu Dr. Aditi Mudaliyar.
“Pepaya juga memiliki sumber folat, vitamin A, magnesium, tembaga, asam pantotenat, dan serat yang baik,” sambungnya, melansir Healthshots.
Di samping itu, buah ini juga memiliki vitamin B, alfa, beta-karoten, lutein, zeaxanthin, vitamin E, kalsium, vitamin K, likopen serta antioksidan yang kuat. Bahkan, beberapa kandungan ini juga sering dikaitkan dengan tomat.
Walaupun bermanfaat untuk kesehatan, ternyata tidak semua orang bisa mengonsumsi buah tersebut. Ini alasannya!
Berbahaya Bagi Ibu Hamil
Bagi ibu hamil, sebaiknya hindari mengonsumsi pepaya mentah atau setengah matang saat masa kehamilan. Dikarenakan, itu bisa menyebabkan kontraksi rahim. Disarankan hindari makan pepaya selama tahap awal kehamilan, kecuali jika sudah matang sepenuhnya. Di sisi lain, wanita yang memiliki riwayat aborsi dan pernah keguguran sebelumnya, disarankan jangan konsumsi pepaya.
Berisiko Mengalami Batu Ginjal
Ada yang mengklaim bahwa pepaya dapat membantu mengontrol kadar kreatinin darah serta meredakan kram otot. Tetapi terlalu banyak mengonsumsi buah pepaya, meski memiliki vitamin C yang kuat, risikonya bisa menyebabkan batu ginjal.
Baca Juga: Manfaat Sholawat Nabi Bisa Jadi Doa Agar Cepat Hamil
Menyebabkan Alergi Lateks
Tidak semuanya baik untuk kesehatan, pepaya disebut dapat menyebabkan alergi lateks. Jika Anda alergi terhadap lateks, sebaiknya hindari makan pepaya atau produk makanan yang mengandung pepaya. Karena orang yang memiliki alergi lateks, kemungkinan juga alergi terhadap pepaya.
Masalah Pada Jantung
Dikatakan seseorang yang memiliki gangguan jantung perlu hindari dari konsumsi pepaya. Papain yang ada dalam daging pepaya, diperkirakan dapat memperlambat laju detak jantung, sehingga memicu kondisi kardiovaskular. Jika Anda punya masalah penyakit ini, baiknya konsultasikan dengan dokter Anda sebelum konsumsi pepaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?