Suara.com - Sebuah studi baru menjelaskan penyebab pria berisiko meninggal lebih awal daripada wanita.
Hilangnya kromosom seks pria seiring bertambahnya usia ini menyebabkan otot jantung mereka terluka dan berisiko menyebabkan gagal jantung mematikan.
Hal inilah yang mungkin menyebabkan pria berisiko meninggal dunia lebih awal dibandingkan wanita. Karena, pria yang kehilangan kromosom Y meninggal pada usia yang lebih muda dan menderita kondisi yang berkaitan dengan usia, seperti penyakit kardiovaskular dan alzheimer.
Peneliti kesehatan Kenneth Walsh dari University of Virginia (UVA) memimpin studi baru, yang juga menunjukkan bahwa pria yang kehilangan kromosom Y bisa mencoba pengobatan dengan obat pirfenidone, yang terlah disetujui FDA untuk mengobati penyakit paru idiopatik fibrosis.
Bila wanita memiliki dua kromosom X, pria memiliki kromosom X dan Y. Tapi seiring bertambahnya usia, banyak pria yang kehilangan kromosom Y di sebagian kecil sel seiring bertambahnya usia, terutama perokok.
Kehilangan kromosom Y terjadi terutama pada sel darah dan sel lain yang mengalami pergantian cepat.
Tapi, ilangnya kromosom Y tidak terjadi pada sel reproduksi pria, sifat tersebut tidak diturunkan secara genetik.
Studi ini menemukan bahwa pria yang kehilangan kromosom Y dapat merespon dengan cukup baik terhadap pirfenidone dan obat antifibrotik lainnya yang sedang dikembangkan.
"Kromosom Y hilang dalam sel-sel yang mengalami pembelahan sel dengan cepat, seperti sel-sel kekebalan dalam darah," kata Walsh dikutip dari News Week.
Baca Juga: Bisa Mengganggu Kenikmatan, Hindari Konsumsi Makanan dan Minuman Ini Sebelum Berhubungan Seks, Ya
Perubahan genetik ini (kehilangan kromosom Y) mengubah fungsi sel-sel kekebalan, yang menyebabkan penyakit kronis dan memperpendek usia harapan hidup.
Penelitian baru Walsh mungkin yang pertama menunjukkan bahwa kehilangan kromosom secara langsung menyebabkan efek berbahaya pada kesehatan pria.
Dengan melakukan analisis data dari bank data Biobank Inggris, para peneliti menemukan bahwa hilangnya kromosom Y dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular dan gagal jantung pada pria.
Semakin banyak kromosom yang hilang, maka semakin meningkat pula risiko kematian pria. Bahkan, penelitian ini juga mempelajari faktor risiko lain yang berkontribusi pada penyakit kardiovaskular, seperti kebiasaan merokok, kolesterol tinggi, obesitas, dan tekanan darah tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial