- Cacar api mengancam individu dengan penyakit kronis dan imun lemah, menyerang satu dari tiga orang dewasa secara global.
- Data 2015–2022 mencatat 390.000 kasus di Indonesia dengan beban biaya rumah sakit mencapai puluhan miliar rupiah bagi BPJS.
- Penyakit ini menyebabkan komplikasi nyeri berkepanjangan dan penurunan produktivitas sehingga edukasi medis sangat penting untuk mencegah dampak serius.
Suara.com - Cacar Api Tak Sesederhana Ruam: Risiko Lebih Tinggi pada Kelompok Rentan dan Dampaknya Bisa Berkepanjangan
Penyakit Herpes Zoster atau cacar api masih sering dianggap sepele. Padahal, data terbaru menunjukkan bahwa penyakit ini bisa berdampak besar, terutama bagi orang dewasa dengan kondisi kesehatan tertentu.
Survei global yang dirilis oleh GSK mengungkap, sebanyak 78% orang dewasa dengan penyakit kronis khawatir cacar api akan mengganggu aktivitas sehari-hari, dan 72% takut penyakit ini berujung pada rawat inap jangka panjang.
Ironisnya, lebih dari separuh (54%) belum pernah membicarakan risiko ini dengan dokter. Cacar api sendiri dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa sepanjang hidupnya.
Risiko ini meningkat signifikan pada kelompok tertentu, terutama mereka yang memiliki penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang menurun.
Kondisi seperti penyakit jantung, diabetes, penyakit ginjal, hingga gangguan paru seperti PPOK atau asma terbukti meningkatkan kemungkinan terjadinya herpes zoster.
Bahkan, pada kondisi tertentu seperti HIV/AIDS, kanker, dan penyakit autoimun, risikonya bisa meningkat hingga lebih dari dua kali lipat.
Di Indonesia, situasinya tak kalah serius. Data menunjukkan bahwa dalam periode 2015–2022, terdapat sekitar 390.000 kasus cacar api di berbagai provinsi besar.
Tak hanya berdampak pada kesehatan, penyakit ini juga membawa beban ekonomi yang signifikan, biaya rawat inap bisa mencapai hingga Rp10 juta per kasus, sementara total pembiayaan oleh BPJS Kesehatan pada 2021 saja menyentuh Rp27,1 miliar.
Baca Juga: Bukan Cuma soal Lingkungan! Disabilitas dan Buruh Desak Negara Hadir di RUU Keadilan Iklim
Menurut dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E., Subsp.Ven, anggota PERDOSKI, tingginya risiko pada kelompok tertentu bukan tanpa alasan.
“Berdasarkan berbagai artikel penelitian, risiko terkena Herpes Zoster memang lebih tinggi pada kelompok tertentu yaitu kondisi immunokompromi, seperti penderita HIV/AIDS, pasien dengan penyakit keganasan, serta mereka yang berusia lanjut, riwayat keluarga dengan Herpes Zoster dan jenis kelamin perempuan,” jelasnya.
Selain lebih rentan terinfeksi, kelompok ini juga berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat. Sekitar 42% penderita cacar api melaporkan nyeri hebat yang mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan setelah ruam sembuh.
Kondisi ini dikenal sebagai neuralgia pasca-herpetik, yang dapat berlangsung dalam jangka panjang dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Tak hanya itu, 33% penderita mengaku produktivitas mereka terganggu akibat penyakit ini.
Sayangnya, kesadaran masyarakat masih rendah. Satu dari empat orang bahkan percaya bahwa penyakit kronis yang mereka miliki tidak berpengaruh terhadap sistem imun atau risiko cacar api. Padahal, penurunan daya tahan tubuh, baik karena usia maupun penyakit penyerta menjadi faktor utama reaktivasi virus penyebab herpes zoster.
Reswita Dery Gisriani dari GSK Indonesia menegaskan pentingnya pemahaman ini. Ia menyebut bahwa banyak orang belum menyadari bahwa penyakit kronis dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- 7 Aturan Feng Shui Kamar Tidur yang Baik untuk Rezeki
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
Pilihan
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
Terkini
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?