Health / Konsultasi
Selasa, 26 Mei 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi penderita lupus. [Dok.Antara]

Pola hidup yang tidak sehat juga dapat memperburuk kondisi penderita lupus. Karena itu, menjaga kualitas tidur, mengelola stres, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan bergizi penting dilakukan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.

Pentingnya Deteksi Dini

Gejala lupus sering kali sulit dikenali karena mirip dengan penyakit lain. Beberapa tanda yang umum muncul antara lain mudah lelah, nyeri sendi, ruam berbentuk kupu-kupu di wajah, rambut rontok, serta demam berkepanjangan.

"SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang," urai dr. Sandra.

Oleh karena itu, wanita perlu lebih waspada terhadap perubahan kondisi tubuh yang terjadi terus-menerus. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu penderita mendapatkan penanganan lebih cepat sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.

Meski lupus belum dapat disembuhkan sepenuhnya, pengobatan dan pola hidup sehat dapat membantu penderita menjalani aktivitas dengan lebih baik dan menjaga kualitas hidup tetap optimal. Selain itu, saat ini, penanganan SLE sudah tidak hanya berfokuss pada mengatasi flare atau kekambuhan, namun juga agar mencapai remisi sebagai target utama.

Salah satu inovasi terbarunya adalah dengan kehadiran Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk SLE dengan cara menargetkan jalur Interferon Tipe I. Anifrolumab bekerja dengan menekan sinyal pada reseptor Interferon I, yaitu jalur yang diketahui memiliki peran penting dalam perkembangan SLE. Pendekatan ini menjadi bagian dari inovasi terapi yang lebih spesifik untuk membantu pasien dengan SLE aktif tingkat sedang hingga berat, sesuai dengan penilaian dan pengawasan dokter.

"Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran Interferon Tipe I, membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta perlindungan dari kerusakan organ dalam jangka panjang,” jelas dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.

Pengembangan terapi inovatif juga perlu didukung dengan edukasi yang lebih luas, diagnosis yang lebih dini, serta penerapan praktik klinis berbasis bukti. Langkah ini penting agar pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing, sekaligus mendapatkan pendampingan berkelanjutan dalam menghadapi penyakit kronis seperti lupus.

Baca Juga: Kenapa Penyakit Lupus Banyak Diidap Perempuan, Dokter Ungkap Sebabnya

Tag

Load More