Pola hidup yang tidak sehat juga dapat memperburuk kondisi penderita lupus. Karena itu, menjaga kualitas tidur, mengelola stres, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan bergizi penting dilakukan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.
Pentingnya Deteksi Dini
Gejala lupus sering kali sulit dikenali karena mirip dengan penyakit lain. Beberapa tanda yang umum muncul antara lain mudah lelah, nyeri sendi, ruam berbentuk kupu-kupu di wajah, rambut rontok, serta demam berkepanjangan.
"SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang," urai dr. Sandra.
Oleh karena itu, wanita perlu lebih waspada terhadap perubahan kondisi tubuh yang terjadi terus-menerus. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu penderita mendapatkan penanganan lebih cepat sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Meski lupus belum dapat disembuhkan sepenuhnya, pengobatan dan pola hidup sehat dapat membantu penderita menjalani aktivitas dengan lebih baik dan menjaga kualitas hidup tetap optimal. Selain itu, saat ini, penanganan SLE sudah tidak hanya berfokuss pada mengatasi flare atau kekambuhan, namun juga agar mencapai remisi sebagai target utama.
Salah satu inovasi terbarunya adalah dengan kehadiran Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk SLE dengan cara menargetkan jalur Interferon Tipe I. Anifrolumab bekerja dengan menekan sinyal pada reseptor Interferon I, yaitu jalur yang diketahui memiliki peran penting dalam perkembangan SLE. Pendekatan ini menjadi bagian dari inovasi terapi yang lebih spesifik untuk membantu pasien dengan SLE aktif tingkat sedang hingga berat, sesuai dengan penilaian dan pengawasan dokter.
"Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran Interferon Tipe I, membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta perlindungan dari kerusakan organ dalam jangka panjang,” jelas dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.
Pengembangan terapi inovatif juga perlu didukung dengan edukasi yang lebih luas, diagnosis yang lebih dini, serta penerapan praktik klinis berbasis bukti. Langkah ini penting agar pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing, sekaligus mendapatkan pendampingan berkelanjutan dalam menghadapi penyakit kronis seperti lupus.
Baca Juga: Kenapa Penyakit Lupus Banyak Diidap Perempuan, Dokter Ungkap Sebabnya
Tag
Berita Terkait
-
Gejala Beragam dan Sulit Terdeteksi, Ini Fakta tentang Autoimun
-
Dari Lupus hingga Kanker Tiroid: Perjuangan Niken di Buku Saya Bukan Dokter
-
Kasus Lupus di Jakarta Terus Naik, DKI Fokus Skrining Perempuan Usia 18 Tahun
-
10 Mei Hari Apa? Ternyata Banyak Perayaan dalam Sehari
-
Kabar Terkini Pemain Sinetron Lupus Milenia, Sinetron Remaja Populer di Tahun 2000-an
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Hoops + Health Youth Basketball Festival 2026 Dorong Generasi Muda Hidup Sehat & Melek Finansial
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia