Padel Punya Risiko Cedera, Sports Medicine Bantu Atlet Tetap Bugar hingga Siap Kembali Bertanding

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:16 WIB
Padel Punya Risiko Cedera, Sports Medicine Bantu Atlet Tetap Bugar hingga Siap Kembali Bertanding
  • Turnamen padel internasional FIP Bronze Banten 2026 berlangsung pada 14–19 Juli 2026 dengan menuntut fisik prima.
  • Bethsaida Hospital dan Seraphim Medical Center menjadi mitra medis resmi untuk menjamin keselamatan dan performa atlet.
  • Pendekatan kedokteran olahraga meliputi evaluasi fisik, pencegahan cedera, rehabilitasi, hingga proses pemulihan atlet yang terukur secara profesional.

Suara.com - Olahraga padel semakin berkembang dan menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan. Di balik permainan yang terlihat menyenangkan, olahraga ini menuntut kemampuan fisik yang cukup tinggi. 

Pemain harus bergerak cepat, melakukan rotasi tubuh, berhenti mendadak, serta berpindah arah secara berulang. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai sports medicine dan rehabilitation menjadi penting, bukan hanya bagi atlet profesional, tetapi juga bagi masyarakat yang aktif berolahraga.

Hal tersebut turut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan FIP Bronze Banten 2026, turnamen padel internasional pertama di Banten yang berlangsung pada 14–19 Juli 2026 dan menjadi bagian dari kompetisi di bawah International Padel Federation (FIP). 

Dalam ajang tersebut, Bethsaida Hospital Gading Serpong dan Seraphim Medical Center hadir sebagai Official Medical Partner untuk mendukung aspek kesehatan dan kesiapan fisik para peserta.

Dukungan medis dalam kompetisi olahraga tidak hanya berkaitan dengan penanganan cedera ketika terjadi. Lebih jauh, pendekatan sports medicine mencakup evaluasi kondisi fisik, pencegahan cedera, peningkatan performa, pemulihan, hingga pendampingan atlet agar dapat kembali berolahraga secara aman setelah mengalami cedera.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga di Seraphim Medical Center, dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.KO, menjelaskan bahwa performa olahraga seharusnya dibangun melalui program yang terukur.

“Dalam olahraga seperti padel, tubuh dituntut bergerak cepat, melakukan rotasi, berhenti mendadak, dan berpindah arah berulang kali. Karena itu, atlet membutuhkan evaluasi kondisi fisik, latihan yang tepat, strategi recovery, serta pemantauan yang sesuai agar dapat menjaga performa sekaligus mengurangi risiko cedera,” ujar dr. Nahum.

Pendekatan tersebut dapat dimulai melalui asesmen kondisi fisik untuk mengetahui kekuatan, stabilitas, mobilitas, daya tahan, hingga kemampuan tubuh dalam mendukung aktivitas olahraga. Hasil evaluasi kemudian dapat menjadi dasar penyusunan latihan yang lebih sesuai dengan kondisi dan target masing-masing individu.

Dalam proses pemulihan, rehabilitasi juga memiliki peran penting. Salah satu konsep yang dikenal dalam kedokteran olahraga adalah back to sport, yakni proses bertahap untuk mengembalikan seseorang ke aktivitas olahraga setelah mengalami cedera.

Menurut dr. Nahum, seseorang tidak cukup hanya dinyatakan bebas dari rasa sakit untuk kembali berolahraga. Kekuatan, fungsi gerak, kontrol tubuh, dan kesiapan fisik juga perlu dipastikan agar risiko cedera berulang dapat diminimalkan.

Sementara itu, cedera olahraga yang melibatkan otot, sendi, ligamen, tulang, maupun tulang belakang memerlukan diagnosis yang tepat.

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Herryanto Agustriadi Simanjuntak, M.H.Kes., Sp.OT, Subsp. CO, mengatakan tingkat keparahan cedera dapat berbeda pada setiap orang.

“Cedera olahraga memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian dapat ditangani secara konservatif melalui obat-obatan, fisioterapi, dan rehabilitasi. Namun, pada kondisi tertentu, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki struktur yang mengalami kerusakan dan mengembalikan fungsi gerak pasien,” jelas dr. Herryanto.

Dalam konteks layanan kesehatan olahraga, penanganan dapat berlangsung secara berkesinambungan, mulai dari pencegahan cedera, pemeriksaan dan diagnosis, tindakan medis maupun operatif, rehabilitasi, pemulihan, hingga persiapan kembali berolahraga.

Selain penanganan cedera, aspek recovery juga menjadi bagian penting bagi atlet maupun masyarakat yang rutin berolahraga. Fasilitas seperti Medical Gym dapat dimanfaatkan untuk mendukung latihan kekuatan, stabilitas, mobilitas, daya tahan, dan performa. 

Sementara itu, program pemulihan dapat dilengkapi dengan fisioterapi, latihan terapeutik, sports massage, hingga metode recovery seperti whole-body cryotherapy dan sauna sesuai kebutuhan.

Melalui kehadiran Bethsaida Hospital Gading Serpong dan Seraphim Medical Center dalam FIP Bronze Banten 2026, perhatian terhadap kesehatan atlet menjadi bagian dari perkembangan olahraga padel itu sendiri. 

Sebab, performa yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras seseorang berlatih, tetapi juga bagaimana tubuh dipersiapkan, dijaga, dipulihkan, dan dikembalikan ke kondisi siap berolahraga secara aman.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com