Indonesia Masih Bergantung pada Obat Impor, Kemandirian Farmasi Jadi Tantangan

Jum'at, 24 Juli 2026 | 21:35 WIB
Executive Chairman & Co-founder Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi. (Dok. ist)
  • Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Menko Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia mendirikan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia di Jakarta pada 24 Juli 2026 guna mengatasi tingginya impor obat.
  • Perusahaan patungan antara Tempo Scan dan SBP Group tersebut berfokus melakukan transfer teknologi untuk memproduksi 13 jenis obat kanker serta terapi penyakit berat di dalam negeri.
  • Kolaborasi strategis ini bertujuan memperkuat ketahanan kesehatan nasional, meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang terjangkau, serta mendukung kemandirian industri farmasi Indonesia.

"Pengalaman COVID-19 membuktikan pentingnya Indonesia memiliki kemampuan memproduksi obat sendiri. Saat itu hampir semua negara mengutamakan kepentingan nasionalnya," kata Airlangga.

Menurutnya, Indonesia masih bergantung pada impor berbagai produk biofarmasi, mulai dari terapi kanker, penyakit hati, diabetes, penyakit pernapasan, hingga antibodi monoklonal, biosimilar, recombinant protein, sitokin, dan insulin biologis.

Ia berharap perusahaan patungan ini dapat memproduksi berbagai obat tersebut di Indonesia sehingga harga menjadi lebih kompetitif.

"Kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah. Obat-obatan biologi harus bisa diakses masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.

Bukan Sekadar Distribusi, tetapi Membangun Industri

Sementara itu, Executive Chairman & Co-founder Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi, menegaskan kerja sama ini bukan sekadar perjanjian lisensi atau distribusi produk seperti yang lazim dilakukan perusahaan farmasi asing.

Menurutnya, Tempo Scan dan SBP Group sengaja memilih skema joint venture karena memiliki komitmen jangka panjang untuk membangun industri farmasi di Indonesia.

"Joint venture mengandung komitmen jangka panjang melalui pembentukan perusahaan permanen di Indonesia dengan modal ekuitas dan tanggung jawab bersama. Indonesia tidak hanya menjadi pasar untuk menjual produk, tetapi menjadi bagian dari global value chain," ujar Handojo.

Ia menjelaskan TCBI akan mengembangkan roadmap transfer teknologi menuju produksi lokal secara bertahap dengan memanfaatkan fasilitas manufaktur Tempo Scan.

Tempo Scan sendiri akan mengontribusikan ekosistem bisnis yang telah dimilikinya, mulai dari 16 fasilitas manufaktur, termasuk tiga fasilitas bersertifikat Good Manufacturing Practice (GMP), jaringan distribusi nasional dengan 46 cabang Pedagang Besar Farmasi (PBF), hingga sistem logistik yang menjangkau seluruh Indonesia.

Di sisi lain, SBP Group akan menghadirkan kekuatan riset dan pengembangan, teknologi produksi modern, serta portofolio obat inovatif, biologik, dan biosimilar.

"TCBI akan menjadi saluran yang menghubungkan inovasi farmasi global dengan pasien di Indonesia," katanya.

Target Hadirkan 13 Obat Kanker

Handojo mengungkapkan salah satu fokus utama TCBI ialah menghadirkan terapi kanker.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2024, Indonesia mencatat sekitar 474 ribu kasus kanker baru setiap tahun dengan lebih dari 283 ribu kematian.

Karena itu, TCBI berencana meluncurkan 13 produk onkologi dan terapi pendukung, termasuk untuk kanker payudara, kanker paru, leukemia, kanker prostat, hingga kanker hati.

Selain onkologi, perusahaan juga akan mengembangkan portofolio untuk penyakit kardiovaskular, diabetes, dan penyakit pernapasan, termasuk terapi biologis dan obat inovatif.

Menurut Handojo, meningkatnya pilihan terapi akan memperkuat persaingan di industri farmasi sehingga harga obat menjadi lebih kompetitif.

"Yang paling penting adalah meningkatkan kompetisi. Dengan semakin banyak pilihan obat berkualitas, pemerintah melalui BPJS maupun pasien memiliki lebih banyak alternatif terapi dengan harga yang lebih terjangkau," katanya.

Ia menambahkan kerja sama ini juga diharapkan mendorong alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas manufaktur lokal, hingga membuka peluang penelitian klinis di Indonesia.

SBP Group: Indonesia Pasar Strategis

Head of International Business Sino Biopharmaceutical sekaligus perwakilan SBP Group, Philip Dong, mengatakan pembentukan TCBI menjadi tonggak penting dalam strategi ekspansi internasional perusahaan.

"Kami sangat senang dapat bermitra dengan Tempo Scan, salah satu perusahaan kesehatan terkemuka di Indonesia. Dengan menggabungkan portofolio obat inovatif dan kapabilitas riset SBP Group dengan keahlian lokal serta jaringan komersial Tempo Scan, kami berharap dapat mempercepat akses pasien Indonesia terhadap terapi inovatif sekaligus berkontribusi memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia," ujar Philip.

Dalam beberapa tahun mendatang, TCBI akan meluncurkan berbagai produk specialty pharmaceutical dan innovative medicine secara bertahap, baik yang telah memperoleh persetujuan maupun yang masih menjalani proses registrasi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu motor penggerak menuju industri farmasi nasional yang lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing global.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com