-
Nanik S Deyang mengundurkan diri akibat stres dan penyakit jantung koroner.
-
Dokter tegaskan stres dan penyakit jantung tidak saling menjadi penyebab utama.
-
Stres serta kelelahan memperberat gejala dan mempersempit pembuluh darah jantung.
Suara.com - Mantan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang mengaku stres berat saat bertugas di BGN. Kondisi stres ini membuatnya mengidap penyakit jantung hingga kolesterol tinggi.
Nanik juga sempat menyadur pernyataan dokter pribadinya jika ia memiliki sumbatan di arteri jantung. Kondisi kesehatan ini juga disebut-sebut jadi salah satu alasan Nanik pilih mundur sebagai kepala BGN, mengingat rencananya jalani pengobatan di luar negeri.
“Menurut dokter saya, ada sumbatan di arteri jantung yang selain karena kolesterol tinggi, juga dipicu juga oleh stres yang luar biasa! Saya saat ini memimpin lembaga yang semua orang mencibir karena semua taulah (apa penyebabnya dicibir). Jadi, bisa dibayangkan ancurnya,” ungkap Nanik melalui Facebook pribadi miliknya pada Rabu (22/7/2026).
Terkait hubungan stres bisa memicu penyakit jantung dan kolesterol awak media sempat meminta pendapat Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP.
Meski bukan dokter pribadi Nanik dan tidak pernah memeriksa perempuan 58 tahun itu, dr. Susetyo mengatakan secara umum stres dan kelelahan berlebih bisa memperberat penyakit jantung. Namun stres bukan jadi penyebab utama seseorang alami masalah jantung dan kolesterol tinggi.
“Memicu, memicu itu artinya memperberat, tetapi bukan sebagai sumber penyebab. Karena umumnya sumber penyebabnya bukan karena dia kecapekan, bukan karena dia tinggi stres,” ujar dr. Susetyo dalam sesi edukasi media PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan PERKI di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurut dr. Susetyo, pada pasien yang sudah memiliki penyakit jantung koroner, stres maupun kelelahan dapat memicu munculnya keluhan yang lebih sering dibandingkan saat kondisi tubuh dalam keadaan rileks.
“Kalau kita sudah mengenai penyakit jantung koroner, ketika kita stres atau lebih kecapekan, biasanya chest pain-nya akan lebih sering, lebih frekuen. Nyeri dadanya akan lebih sering,” ujar dr. Susetyo.
Ia menjelaskan, mekanisme tersebut terjadi karena saat seseorang mengalami stres, tubuh akan mengaktifkan respons ‘fight or flight’ yang membuat pembuluh darah berkontraksi atau mengalami vasokonstriksi.
Pada orang sehat, penyempitan pembuluh darah ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk meningkatkan aliran darah ke organ-organ penting ketika menghadapi situasi darurat.
“Pembuluh darah itu dinamis. Dia bisa konstriksi dan bisa relaksasi. Itu memang anugerah Tuhan. Misalnya ketika kita dikejar anjing atau maling, pembuluh darah akan mengecil supaya aliran darah menjadi lebih cepat,” jelasnya.
Namun kondisi tersebut menjadi berbeda pada pasien yang telah memiliki penyempitan pembuluh darah akibat penyakit jantung koroner.
“Kalau ukurannya sudah lebih kecil karena ada penyempitan, kemudian pembuluh darah mengalami konstriksi lagi akibat stres, maka area yang terbuka menjadi semakin kecil. Nah, itu yang bisa menimbulkan chest pain atau nyeri dada,” katanya.
Sementara pada pasien gagal jantung, menurut dr. Susetyo, faktor kelelahan justru lebih sering menjadi pencetus munculnya keluhan berupa sesak napas atau mudah lelah.
“Kalau gagal jantung umumnya karena kecapekan. Pasien akan lebih mudah ngap atau sesak,” pungkasnya.