Riset IHDC: Indonesia Berisiko Alami Silent Cognitive Burden pada Anak

Rabu, 29 Juli 2026 | 10:09 WIB
Ilustrasi anak. (Pexels/ Yazid N)
  • Peneliti Indonesia Health Development Center merekomendasikan pemerintah memperhatikan kemampuan berpikir anak guna mencegah penurunan kapasitas kognitif.
  • Penelitian mengidentifikasi empat faktor utama masalah kognitif anak meliputi gangguan penglihatan, defisiensi zat besi, protein, dan gangguan perilaku.
  • Rekomendasi tersebut disampaikan dalam telekonferensi memperingati Hari Anak Nasional pada hari Kamis tanggal 23 Juli 2026.

Suara.com - Alih-alih hanya berfokus pada stunting, peneliti Indonesia Health Development Center (IHDC) merekomendasikan pemerintah mulai memperhatikan kemampuan berpikir anak Indonesia sebagai salah satu indikator penting dalam menentukan arah pembangunan masa depan.

Rekomendasi ini disampaikan berdasarkan penelitian terbaru IHDC yang menemukan Indonesia berpotensi mengalami silent cognitive burden, yaitu penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang berlangsung secara perlahan akibat berbagai masalah kesehatan yang belum menjadi dasar kebijakan publik.

Penelitian tersebut mengidentifikasi empat faktor utama yang memengaruhi kemampuan berpikir anak usia sekolah, yakni gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.

Dari temuan tersebut, IHDC mengestimasi lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami gangguan penglihatan. Sementara itu, defisiensi zat besi diperkirakan dialami oleh lebih dari 7 juta balita di Indonesia.

Adapun gangguan perilaku berupa kecemasan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dialami oleh lebih dari 300 ribu anak usia sekolah.

Konferensi memperingati Hari Anak Nasional, Kamis (23/7/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Temuan ini diperoleh melalui metode rapid review terhadap berbagai penelitian internasional yang kemudian divalidasi oleh pakar dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, hingga kebijakan publik.

Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan Republik Indonesia periode 2014–2019, Prof. Nila F. Moeloek, mengatakan keempat masalah tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dalam jangka pendek, tapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, memori kerja, perhatian, kreativitas, hingga kapasitas membangun cita-cita dan inovasi.

"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal, bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional," ujar Prof. Nila dalam telekonferensi memperingati Hari Anak Nasional, Kamis (23/7/2026).

"Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," imbuhnya.

Peneliti sekaligus Direktur Eksekutif IHDC, Dr. Ray Wagiu Basrowi, mengatakan hasil penelitian ini menjadi pengingat pentingnya membangun kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.

"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial," papar Dr. Ray.

Konferensi memperingati Hari Anak Nasional, Kamis (23/7/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

"Karena itu, kapasitas tersebut sebaiknya mulai diukur sejak usia anak agar mereka dapat belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya," jelas Dr. Ray lagi.

Dari keempat faktor tersebut, IHDC menilai gangguan refraksi yang tidak terkoreksi menjadi risiko terbesar karena sangat memengaruhi proses belajar.

Meski prevalensinya tinggi, intervensi terhadap kondisi ini dinilai relatif mudah dilakukan melalui skrining dini dan penggunaan kacamata.

Selain itu, IHDC juga merekomendasikan penguatan upaya pencegahan anemia akibat defisiensi zat besi, peningkatan kualitas nutrisi anak usia sekolah, serta deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan modal manusia Indonesia.

"Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi. Investasi terhadap perkembangan otak anak adalah investasi terhadap daya saing bangsa," pungkas Prof. Nila.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com