Kanker Paru Bukan Akhir Segalanya, Dukungan Jadi Kekuatan Pasien Jalani Pengobatan

Senin, 24 Agustus 2026 | 18:15 WIB
Kanker Paru-Paru (pexels.com)
  • Komunitas Harapan Indonesia diluncurkan bersamaan dengan Hari Kanker Paru Sedunia 2026 untuk memberikan edukasi dan dukungan bagi pasien.
  • Dr. dr. Cosphiadi Irawan menyatakan bahwa deteksi dini dan pengobatan modern dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker.
  • PT Etana Biotechnologies Indonesia turut mendukung kolaborasi lintas sektor ini untuk memperkuat ekosistem pendampingan dan penanganan kanker di Indonesia.

Suara.com - Kanker paru bukan hanya menjadi persoalan medis yang membutuhkan penanganan tepat. Bagi pasien dan keluarga, diagnosis kanker juga dapat menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan kekhawatiran, ketidakpastian, hingga perubahan dalam kehidupan sehari-hari. 

Di tengah kondisi tersebut, dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas menjadi bagian penting agar pasien tidak merasa menghadapi perjuangan seorang diri.

Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam peluncuran Komunitas Harapan Indonesia yang bertepatan dengan peringatan Hari Kanker Paru Sedunia 2026. Peluncuran komunitas tersebut digelar bersama sesi Health Talk bertema “Spread Hope” dengan melibatkan Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dan Srikandi Indonesia.

Komunitas Harapan Indonesia dihadirkan sebagai ruang bagi pejuang kanker, penyintas, caregiver, keluarga, hingga tenaga kesehatan untuk berbagi pengalaman, mendapatkan informasi dan edukasi kesehatan yang terpercaya, sekaligus memberikan dukungan satu sama lain.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Onkologi Indonesia, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD-KHOM, FINASIM, mengatakan diagnosis kanker kerap membuat pasien langsung membayangkan kemungkinan terburuk.

“Begitu seseorang didiagnosis kanker, yang terbersit dalam pemikirannya adalah bahwa ini hukuman mati,” ujar Cosphiadi.

Peluncuran Komunitas Harapan Indonesia yang Bertepatan dengan Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia (Dok. Istimewa)

Menurutnya, kondisi psikologis pasien tidak dapat dilepaskan dari proses pengobatan. Support system yang baik dari keluarga, teman, maupun lingkungan dapat membantu menjembatani rasa tertekan yang muncul setelah diagnosis, sehingga pasien dapat kembali melihat adanya harapan.

Dari sisi medis, perkembangan pengobatan kanker juga terus memberikan pilihan bagi pasien. Cosphiadi menjelaskan, kanker dapat disembuhkan apabila ditemukan dan ditangani pada stadium awal. Sementara pada stadium lanjut, pengobatan diarahkan untuk mencapai masa bebas progresi penyakit dengan berbagai pilihan terapi yang tersedia.

“Pilihan terapi kini mencakup terapi sistemik, terapi target, imunoterapi onkologi, hingga terapi sel,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak mengabaikan gejala yang berlangsung terus-menerus. Cosphiadi menyarankan masyarakat berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala yang menetap lebih dari tiga minggu, sehingga kondisi dapat segera diperiksa dan ditangani sesuai kebutuhan.

Dalam upaya memperkuat dukungan bagi pasien kanker, PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) turut mendukung peluncuran Komunitas Harapan Indonesia. Dukungan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi yang lebih luas dalam membangun ekosistem pendampingan bagi pasien dan keluarga.

Presiden Direktur Etana, Nathan Tirtana, mengatakan inovasi di bidang kesehatan perlu berjalan bersama kepedulian, empati, dan kolaborasi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pasien.

“Di Etana, kami percaya bahwa menghadirkan inovasi di bidang kesehatan saja tidaklah cukup. Inovasi harus berjalan berdampingan dengan kepedulian, empati, dan kolaborasi agar benar-benar memberikan dampak bagi kehidupan pasien,” kata Nathan.

Ia menilai persoalan kanker tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, industri, komunitas pasien, dan masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Sementara itu, Ketua Komunitas Harapan Indonesia, Evie Wahyudi, berharap kehadiran komunitas tersebut dapat membantu semakin banyak masyarakat mendapatkan informasi kesehatan yang benar sekaligus dukungan emosional.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat Indonesia yang memperoleh akses terhadap informasi kesehatan yang benar dan dukungan emosional,” ujar Evie.

Pada akhirnya, menghadapi kanker bukan hanya tentang pilihan terapi, tetapi juga tentang bagaimana pasien mendapatkan informasi yang tepat, pendampingan, dan ruang untuk tetap memiliki harapan. 

Dengan dukungan yang hadir dari berbagai pihak, perjalanan panjang pengobatan kanker diharapkan dapat dijalani dengan lebih kuat dan tidak sendirian.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com