Tak Cuma Soal Pola Makan, Ini yang Membuat Berat Badan Sulit Turun

Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:28 WIB
Tak Cuma Soal Pola Makan, Ini yang Membuat Berat Badan Sulit Turun. (Dok. Istimewa)
  • Tubuh beradaptasi saat berat badan turun dengan mengubah sinyal hormon dan meningkatkan rasa lapar.
  • Dr. Guadelupe Maria Melissa menjelaskan terapi tirzepatide bekerja pada hormon incretin untuk mengendalikan nafsu makan pasien.
  • Tara de Thouars menyatakan pendekatan psikologis diperlukan guna mengatasi dorongan makanan yang sulit dikendalikan.

Suara.com - Obesitas kerap dipandang sebagai persoalan pola makan dan kurangnya aktivitas fisik. Padahal, pengelolaan berat badan melibatkan mekanisme biologis yang kompleks, termasuk perubahan sinyal hormon dan pengaturan nafsu makan di otak.

Ketika seseorang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dalam waktu lama, tubuh dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Salah satu mekanismenya berkaitan dengan sistem pengaturan nafsu makan dan rasa kenyang. Perubahan ini dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lapar dan lebih sulit merasa kenyang ketika berupaya menurunkan berat badan.

Salah satu sistem yang berperan adalah hormon incretin, yakni hormon yang diproduksi usus setelah seseorang makan. Dua di antaranya adalah GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) dan GIP (Glucose-Dependent Insulinotropic Polypeptide).

Hormon tersebut membantu tubuh merespons makanan yang masuk, termasuk dalam pengaturan kadar gula darah, nafsu makan dan rasa kenyang.

Mekanisme tersebut juga menjadi salah satu dasar penggunaan obat berbasis tirzepatide dalam penanganan obesitas. Tirzepatide bekerja pada reseptor GLP-1 dan GIP sehingga dapat memengaruhi pengaturan nafsu makan dan metabolisme.

Medical Manager LIGHT Group, dr. Guadelupe Maria Melissa, mengatakan respons tubuh terhadap penurunan berat badan dapat menjadi salah satu alasan seseorang kesulitan mempertahankan hasil diet.

“Banyak orang merasa gagal menjalani diet bukan semata-mata karena kurang disiplin,” kata Guadelupe.

Menurut dia, ketika berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang melalui perubahan sinyal hormon serta mekanisme pengaturan nafsu makan di otak. Karena itu, penanganan obesitas perlu mempertimbangkan faktor biologis tersebut.

Terapi berbasis tirzepatide, lanjut Guadelupe, bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yakni GLP-1 dan GIP. Pada pasien yang sesuai, terapi tersebut dapat membantu mengendalikan nafsu makan dan asupan makanan.

Namun, penggunaan obat bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pengelolaan berat badan. Guadelupe menekankan perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

“Terapi terbaik tidak berhenti pada injeksi saja. Keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan pendekatan yang komprehensif dan pengaturan pola makan yang dipersonalisasi,” ujarnya.

Ketika Pikiran Terus Dipenuhi Makanan

Selain faktor biologis, ada aspek psikologis yang juga kerap muncul dalam perjalanan seseorang mengelola berat badan. Salah satunya adalah food noise, istilah yang digunakan untuk menggambarkan pikiran atau dorongan terhadap makanan yang muncul berulang kali dan terasa sulit dikendalikan.

Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, mengatakan food noise tidak semestinya langsung dianggap sebagai persoalan kemauan atau kedisiplinan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com