- Pelatih Fisik Timnas Esports Maleakhi Patty menyatakan atlet esports wajib menjaga kebugaran fisik dan massa otot.
- Pemain Timnas Esports Syauki Nino Fauzan mengatasi jari kaku akibat panggung dingin dengan menempelkan koyo.
- PB ESI dan PT Hisamitsu Pharma Indonesia bekerja sama mendukung Pelatnas esports pada 15 September 2026.
Suara.com - Atlet esports atau gamer profesional memang lebih banyak menggunakan tangan untuk berkarier, tapi mereka juga tetap harus menjaga kebugaran fisik hingga membangun otot.
Keharusan ini diungkap Pelatih Fisik Timnas Esports Indonesia, Maleakhi Patty. Lelaki yang akrab disapa Coach Eky Patty ini menemukan pada awal sebelum ia melatih para gamer atau atlet esports, mayoritas memiliki massa otot rendah, diabetes hingga hipertensi.
Padahal, menurut Coach Eky, kebugaran sangatlah penting lantaran akan membantu kinerja otak jadi lebih cepat dan lebih fleksibel.
Kondisi ini nantinya akan membantu para atlet merespons cepat tindakan yang perlu dilakukan saat bertanding.
“Jadi mereka kan saat bertanding perlu konsentrasi tinggi, nah setelahnya perlu juga refleks atau respons yang cepat. Jadi olahraga dan kebugaran fisik bakal membantu dari sisi itu,” ujar Coach Eky saat media briefing PB ESI dan Salonpas "We Got Your Back!" di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Coach Eky yang juga seorang personal trainer menjelaskan pentingnya memperbesar massa otot. Ini karena massa otot sangat membantu mencegah kekakuan tubuh, termasuk agar terhindar dari pegal-pegal karena kurang aktivitas fisik.
"Saya sangat menyarankan untuk setidaknya memang harus menaikkan massa otot. Karena kalau lower back sakit, saya langsung pasti tahu, ototnya kecil," papar Coach Eky.
Setelah memiliki massa otot, juga tidak lantas seorang atlet merasa aman, khususnya untuk seorang gamer yang memerlukan kebugaran pada otot lengan dan jarinya. Itu sebabnya, penting untuk mencegah otot jari kaku.
Pengalaman ini dirasakan langsung pemain Timnas Esports Indonesia, Syauki Nino Fauzan yang mengaku kerap mengalami jari kaku saat bertanding di atas panggung. Kondisi ini terjadi lantaran area kompetisi cenderung dingin, sehingga jarinya kaku.
"Sama kayak kebanyakan gamers, aku kalau di atas panggung suka dingin dan kaku gitu. Jadi solusinya pakai koyo di jari-jarinya, supaya nggak kaku, karena kalau kaku gitu kan ngaruh ke performa lagi tanding," ungkap lelaki yang akrab disapa Nino itu.
Kondisi ini membuktikan para atlet esports butuh dukungan secara holistik, bukan hanya perkara fasilitas teknologi hingga kemampuan bermain dengan cepat, tapi juga pendampingan kesehatan.
Ini juga jadi alasan Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) dan PT Hisamitsu Pharma Indonesia bekerja sama mendukung program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Tim Nasional Esports Indonesia melalui Salonpas.
"Kami memahami bahwa latihan yang intensif dapat menimbulkan pegal dan nyeri otot. Karena itu, kami turut memberikan dukungan produk untuk membantu para atlet menjaga kenyamanan tubuh agar dapat menjalani program Pelatnas dan pertandingan secara optimal," ujar Product Manager Salonpas, Davin Widodo.
Adapun pelatihan yang mencakup persiapan Timnas menghadapi Asian Games ke-20 Aichi-Nagoya 2026 di Jepang, Global Esports Games (GEG) Los Angeles 2026 di Amerika Serikat, serta tahapan persiapan menuju kompetisi-kompetisi antarnegara 2027.
Sekadar informasi, Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober 2026, sedangkan Global Esports Games Los Angeles 2026 dijadwalkan pada 1 hingga 7 Desember 2026.
Program Pelatnas hingga Mei 2027 juga menjadi bagian dari tahapan persiapan menuju kompetisi-kompetisi antarnegara pada 2027, dengan pelaksanaannya mengikuti keputusan dan agenda resmi PB ESI.