Suara.com - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare, naik 69 persen atau 82.791,04 hektare dibandingkan periode yang sama pada 2025. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan melalui platform SiPongi, lonjakan terbesar terjadi pada Juli, ketika hampir 95 ribu hektare lahan terbakar dalam sebulan.
Data dari lembaga lain menunjukkan angka berbeda. Independent MapBiomas Indonesia Fire Monthly mencatat 178.232 hektare area terbakar sepanjang Januari-Juni 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan catatan Kementerian Kehutanan untuk periode yang sama, yakni 107.465 hektare. Kalimantan Barat, Riau, dan Nusa Tenggara Timur menjadi wilayah dengan area terdampak terbesar.
Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup, Eduward Hutapea, mengatakan sebagian besar karhutla bukan semata-mata bencana alam. Menurutnya, penyebab utama berkaitan dengan aktivitas manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian. Pernyataan itu disampaikan dalam laman Kementerian Lingkungan Hidup pada 24 Agustus 2026.
Riset: Asap Karhutla Berkaitan dengan Gangguan Mental
Selain berdampak pada kualitas udara dan sistem pernapasan, sejumlah penelitian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir mengaitkan paparan asap kebakaran hutan dengan memburuknya kesehatan mental, sebagian karena perubahan pada sel-sel otak. Hal itu diungkap jurnalis sains Emma Foehringer Merchant dalam laporan yang dipublikasikan Undark pada Maret 2026.
Menurut laporan tersebut, partikel halus (particular matter) dalam asap dapat masuk ke aliran darah lalu menembus penghalang darah-otak (blood-brain barrier), sebagian bahkan diduga langsung masuk ke otak lewat rongga hidung. Di dalam otak, partikel ini memicu aktivitas sel imun yang menimbulkan peradangan saraf (neuroinflammation). Sejumlah studi menyebut peradangan tersebut berkaitan dengan kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Toksikolog dari University of New Mexico, Matther Campen, yang meneliti dampak asap karhutla pada tikus percobaan sejak 2020, menemukan tanda peradangan saraf, penururan kadar serotonin, dan penumpukan protein amiloid-beta pada otak hewan uji-termasuk pada paparan asap kadar rendah yang tidak menimbulkan dampak signifikan pada paru-paru.
Menurut Campen, efek tersebut tidak segara hilang. "Anda bahkan mungkin tidak sadar sedang depresi atau cemas akibat paparan yang terjadi tiga minggu lalu,"ujarnya, seperti dikutip Undark.
Sejumlah penelitian pada manusia turut mendukung temuan itu. Studi pada 2024 terhadap lebih dari 7 juta poenduduk California mencatat peningkatan resep obat penstabil suasana hati dan antidepresan dalam enam pekan setelah kebakaran besar terjadi. Adapun tim peneliti Stanford dan Harvard pada 2025 menganalisis hampir 90 ribu kunjungan gawat darurat terkait kesehatan mental dan menemukan bahwa paparan asap karhutla meningkatkan kemungkinan seseorang datang ke unit gawat darurat karena alasan kejiwaan.
Meski demikian, neurosaintis Burcin Ikiz, pendiri Neuro Climate Working Group, menyebut hubungan antara asap dan kesehatan mental jangka panjang masih sulit dipastikan besarannya.
"Sinyalnya nyata, tapi lebih rumit (dibandingkan dampak kardiovaskular)," tulis Ikiz, seraya menambahkan bahwa memisahkan efek biologis langsung dari asap dengan trauma psikologis akibat bencana itu sendiri masih menjadi tantangan bagi peneliti.
Bagaimana di Indonesia?
Riset-riset tersebut dilakukan di Amerika Serikat dan belum tentu berlaku identik pada konteks Indonesia, yang memiliki karakterisitik lahan gambut, pola paparan, serta sistem layanan kesehatan berbeda.
Sejauh ini, belum ada data resmi dari pemerintah Indonesia yang secara khusus mengukur dampak kesehatan mental akibat paparan asap karhutla di wilayah terdampak seperti Kalimantan Barat, Riau, atau Sumatera Selatan.
Dengan luas karhutla nasional tahun ini mencapai lebih dari 200 ribu hektare, penelitian yang menghubungkan asap dan keseahtan otak tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla berpotensi tidak berhenti pada gangguan pernapasan semata, melainkan area yang menurut para peneliti masih membutuhkan kajian lebih lanjut, termasuk di negara-negara dengan tingkat paparan asap tahunan seperti Indonesia.
Penulis: Inesia Dian