Awas, Sering Dianggap Sepele! Ini Bahaya di Balik BAB Berdarah yang Jarang Diketahui

Jum'at, 25 September 2026 | 16:14 WIB
Ilustrasi gangguan pencernaan seperti sembelit atau konstipasi yang membuat perut terasa sakit.
BACA 10 DETIK
  • Dokter Okkian Wijaya Katamto menyatakan buang air besar berdarah tidak selalu menandakan ambeien.
  • Bethsaida Hospital Gading Serpong menyediakan layanan pemeriksaan endoskopi dan kolonoskopi untuk pasien saluran cerna.
  • Penanganan medis disesuaikan dengan tingkat keparahan, mulai dari terapi obat hingga prosedur bedah digestif.

Suara.com - Pernah menemukan darah saat buang air besar (BAB) lalu langsung menganggapnya sebagai ambeien? Anggapan tersebut memang cukup umum. BAB berdarah sering dikaitkan dengan wasir atau ambeien, padahal keluhan ini tidak selalu disebabkan oleh kondisi tersebut.

Pada beberapa kasus, BAB berdarah dapat menjadi tanda adanya gangguan lain pada saluran cerna yang membutuhkan evaluasi medis lebih lanjut. Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan penyebab hanya berdasarkan gejala yang muncul.

Keluhan wasir sendiri bukan masalah yang jarang terjadi. Dalam artikel edukasi kesehatan yang dipublikasikan jejaring Kementerian Kesehatan, disebutkan bahwa berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2008, sebanyak 12,5 juta jiwa penduduk Indonesia menderita wasir. 

Secara epidemiologi, jumlah tersebut diperkirakan meningkat hingga 20,3 juta jiwa pada 2020. Dokter Spesialis Bedah Umum Konsultan Bedah Digestif di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Okkian Wijaya Katamto, Sp.B-KBD, mengingatkan agar BAB berdarah tidak langsung dianggap sebagai ambeien tanpa pemeriksaan yang tepat.

“BAB berdarah memang sering berkaitan dengan ambeien, tetapi tidak selalu demikian. Pemeriksaan tetap diperlukan untuk mengetahui sumber keluhan, apakah berasal dari pembengkakan pembuluh darah di area anus, luka pada anus, peradangan, atau gangguan lain pada saluran cerna bagian bawah,” ujarnya.

Menurut dr. Okkian, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan apabila BAB berdarah terjadi berulang. Terlebih jika keluhan disertai nyeri saat BAB, benjolan di sekitar anus, perubahan pola BAB yang berlangsung lama, tinja berwarna hitam, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Pemeriksaan sejak dini membantu dokter memastikan sumber keluhan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Pemeriksaan untuk Mengetahui Sumber Keluhan

Untuk mendukung evaluasi berbagai gangguan sistem pencernaan, Bethsaida Hospital menghadirkan Digestive Center di Bethsaida Hospital Gading Serpong. Layanan ini mendukung pasien mulai dari pemeriksaan hingga penanganan sesuai kebutuhan medis.

Pasien dapat menjalani pemeriksaan saluran cerna melalui prosedur seperti endoskopi untuk mengevaluasi kondisi saluran cerna bagian atas, termasuk kerongkongan dan lambung. Tersedia pula kolonoskopi sesuai indikasi medis dan ketersediaan layanan untuk membantu memeriksa usus besar serta saluran cerna bagian bawah.

Pemeriksaan tersebut dapat dipertimbangkan pada pasien dengan keluhan seperti BAB berdarah, perubahan pola BAB, maupun gejala lain yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut. 

Dengan mengetahui sumber masalah secara lebih akurat, dokter dapat menentukan penanganan berdasarkan kondisi yang ditemukan, bukan sekadar meredakan gejala sementara.

Penanganan Disesuaikan dengan Kondisi Pasien

Setelah evaluasi dilakukan, penanganan dapat diberikan sesuai tingkat keparahan dan temuan pemeriksaan. Pada sebagian kasus, pasien mungkin cukup mendapatkan terapi obat, pemantauan berkala, perubahan pola makan, serta perbaikan kebiasaan BAB.

Namun, pada kondisi tertentu, pasien dapat membutuhkan prosedur atau tindakan lanjutan. Digestive Center Bethsaida juga mendukung penanganan kasus yang membutuhkan tindakan bedah digestif, termasuk pendekatan bedah minimal invasif yang bertujuan membantu proses pemulihan dengan luka operasi yang lebih kecil dan risiko komplikasi yang lebih rendah.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com