Sering Dianggap Cuma Efek Menua, Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Katup Jantung Bermasalah

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:38 WIB
Ilustrasi Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Katup Jantung Bermasalah. (Freepik)
BACA 10 DETIK
  • Penyakit katup jantung yang dipicu faktor usia atau bawaan dapat menyebabkan gagal jantung akibat aliran darah terganggu.
  • Gejala klasik seperti sesak napas dan kelelahan saat beraktivitas perlu diperiksakan agar tidak ditangani terlalu terlambat.
  • Teknologi medis minimal invasif seperti TAVI kini hadir sebagai alternatif penggantian katup tanpa operasi dada terbuka.

“Kalau katup mulai mengalami kegagalan, ada dua kemungkinan. Katup tidak bisa membuka dengan baik atau tidak bisa menutup dengan baik, seperti sebuah pintu yang tidak bisa membuka atau tidak bisa menutup,” kata Dr Edgar.

Katup yang tidak dapat membuka dengan sempurna akan menghambat aliran darah. Sementara katup yang tidak dapat menutup dengan baik dapat membuat darah mengalir kembali ke arah yang seharusnya tidak terjadi.

Kedua kondisi tersebut sama-sama membuat jantung bekerja lebih keras untuk mempertahankan aliran darah.

Jika berlangsung dalam waktu lama, beban kerja tambahan tersebut dapat membuat otot jantung melemah. Dalam kondisi yang lebih lanjut, pasien dapat mengalami gagal jantung.

Penyakitnya Bisa Terdeteksi dari Pemeriksaan Sederhana

Salah satu hal yang menarik dari penyakit katup jantung adalah kelainan tersebut terkadang dapat dicurigai hanya dengan pemeriksaan menggunakan stetoskop.

Ketika aliran darah di dalam jantung terganggu akibat masalah pada katup, dapat muncul suara jantung yang tidak normal atau disebut murmur.

“Karena katup merupakan struktur di dalam jantung, ketika terjadi kerusakan dan aliran darah terganggu, biasanya akan muncul suara. Suara tersebut dapat didengar dokter menggunakan stetoskop,” jelas Dr Edgar.

Jika dokter menemukan suara jantung yang mencurigakan, pasien biasanya akan menjalani pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi atau USG jantung.

Pemeriksaan tersebut dapat membantu melihat kondisi katup secara lebih detail, termasuk katup mana yang mengalami masalah dan seberapa berat gangguannya.

Siapa yang Berisiko Mengalami Penyakit Katup Jantung?

Penyakit katup jantung dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, tetapi terdapat dua kelompok yang cukup menonjol.

Kelompok pertama adalah pasien yang lebih muda, sekitar usia 50–60 tahun, yang dapat mengalami kelainan katup berkaitan dengan kondisi bawaan atau faktor genetik.

Namun, kelompok yang lebih banyak ditemukan adalah pasien lanjut usia, terutama mereka yang berusia di atas 70 tahun.

“Sekitar 80 persen pasien berada pada kelompok usia lebih dari 70 tahun. Pada kelompok ini, biasanya kondisi yang terjadi berkaitan dengan proses *wear and tear* atau kerusakan yang berkembang seiring usia,” ujar Dr Edgar.

Pada usia lanjut, katup jantung telah bekerja selama puluhan tahun. Katup membuka dan menutup berkali-kali setiap hari sehingga seiring waktu dapat mengalami perubahan dan kerusakan.

Jenis kelamin bukan menjadi pembeda yang terlalu besar. Namun, pada kelompok usia yang sangat lanjut, jumlah pasien perempuan dapat terlihat lebih banyak karena perempuan secara umum memiliki usia harapan hidup lebih panjang.

Selain faktor usia, penyakit katup juga dapat berkaitan dengan kondisi lain. Salah satunya adalah penyakit jantung rematik yang dapat menyebabkan kerusakan katup pada usia lebih muda.

Jangan Tunggu Sampai Sesak Saat Istirahat

Masalahnya, penyakit katup jantung dapat berkembang perlahan. Pasien mungkin masih dapat beraktivitas meski kemampuan fisiknya terus menurun.

Karena itu, sebagian orang baru mencari pertolongan ketika kondisinya sudah cukup berat.

Dr Edgar mengingatkan, salah satu tanda bahwa kondisi sudah memasuki tahap serius adalah ketika sesak napas tidak lagi hanya muncul saat beraktivitas, tetapi bahkan terjadi ketika pasien sedang beristirahat atau berbaring.

“Yang paling buruk adalah ketika pasien sudah sangat bergejala hingga sesak bahkan tanpa aktivitas. Itu sudah terlalu terlambat,” katanya.

Penanganan pada tahap lanjut tetap dapat memberikan manfaat. Namun, fungsi jantung belum tentu dapat kembali sepenuhnya seperti sebelumnya.

“Kalau pasien ditangani sangat terlambat, kita masih bisa membuat kondisinya lebih baik dan meningkatkan harapan hidup. Tetapi terkadang fungsi jantung tidak dapat pulih 100 persen,” jelasnya.

Inilah alasan mengapa pemeriksaan dan penanganan tidak sebaiknya ditunda hingga gejala menjadi berat.

Tak Selalu Harus Operasi Bedah Jantung Terbuka

Perkembangan teknologi medis kini memberikan pilihan penanganan yang lebih minimal invasif untuk pasien tertentu.

Salah satunya adalah Transcatheter Aortic Valve Implantation atau TAVI, yakni prosedur penggantian katup aorta menggunakan kateter tanpa perlu melakukan operasi jantung terbuka.

Menurut Dr Edgar, TAVI awalnya banyak digunakan pada pasien yang berusia lanjut atau memiliki risiko tinggi sehingga tidak memungkinkan menjalani operasi terbuka. Namun, seiring perkembangan teknologi dan perangkat yang digunakan, prosedur tersebut kini dapat dipertimbangkan pada kelompok pasien yang lebih luas.

“Sekarang, misalnya untuk TAVI, katup ini pada dasarnya dapat digunakan untuk pasien berusia di atas 65 tahun. Jika pasien berusia lebih dari 65 tahun, TAVI maupun operasi dapat menjadi pilihan,” ujarnya.

Pada pasien berusia lebih dari 80 tahun atau mereka yang memiliki risiko operasi lebih tinggi, TAVI dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai dibandingkan operasi terbuka, tergantung kondisi masing-masing pasien.

Prosedur TAVI dilakukan menggunakan kateter yang umumnya dimasukkan melalui pembuluh darah di area pangkal paha. Karena tidak membutuhkan pembukaan dada, prosedur ini cenderung lebih minim trauma dibandingkan operasi jantung terbuka.

Pasien juga umumnya tidak membutuhkan anestesi umum dan dapat menjalani pemulihan lebih cepat.

Namun, keputusan memilih TAVI atau operasi tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien, termasuk usia, risiko operasi, kondisi katup, serta penyakit penyerta.

Bisa Berjalan Bersamaan dengan Penyakit Jantung Lain

Penyakit katup jantung juga tidak selalu berdiri sendiri. Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat mengalami lebih dari satu jenis penyakit jantung. Misalnya, penyumbatan pembuluh darah koroner sekaligus gangguan katup atau gangguan katup yang disertai gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium.

Dr Edgar menjelaskan, kondisi tersebut membuat dokter perlu melihat masalah mana yang paling berisiko bagi pasien dan harus ditangani terlebih dahulu.

“Kadang pasien memiliki penyumbatan pembuluh darah sekaligus masalah katup yang berat. Jika hanya memperbaiki penyumbatan, tetapi masalah katup yang menjadi persoalan utama tidak ditangani, pasien belum tentu membaik,” katanya.

Karena itu, penanganan pasien dengan penyakit jantung yang kompleks sering kali membutuhkan kerja sama beberapa dokter dengan keahlian berbeda.

TAVI Bukan Sekadar Meredakan Gejala

Pada pasien dengan penyempitan katup aorta atau aortic stenosis, TAVI bukan hanya ditujukan untuk membuat pasien merasa lebih nyaman.

Menurut Dr Edgar, prosedur tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni memperbaiki gejala sekaligus meningkatkan harapan hidup pasien.

Dalam prosedur ini, katup yang bermasalah digantikan dengan katup baru yang berfungsi mengatur kembali aliran darah dari jantung.

“Untuk TAVI, kita sebenarnya mengganti katup dengan katup baru. Jadi ada katup yang berfungsi kembali di dalam tubuh pasien tanpa harus membuka dada,” jelasnya.

Katup tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun. Namun, seperti katup alami, katup buatan juga tetap dapat mengalami kerusakan dalam kondisi tertentu.

Dr Edgar mengatakan, katup TAVI umumnya dapat bertahan setidaknya 10–15 tahun. Pada sebagian pasien, masa penggunaannya dapat lebih panjang, tergantung kondisi masing-masing.

Setelah TAVI, Perawatan Tetap Diperlukan

Tindakan penggantian katup bukan berarti pasien tidak lagi membutuhkan pemantauan.

Setelah prosedur, pasien umumnya menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar tiga hari sebelum pulang. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan fungsi katup tetap baik, salah satunya melalui ekokardiografi.

Kontrol biasanya dilakukan sekitar tiga bulan setelah tindakan, kemudian enam bulan, dan selanjutnya dapat dilakukan setahun sekali sesuai kondisi pasien.

Pasien juga perlu memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. Sebab, infeksi tertentu dapat menyerang katup buatan dan menyebabkan kondisi serius yang disebut endokarditis.

“Karena itu, kami selalu mengingatkan pasien untuk menjaga kebersihan gigi dengan baik. Perawatan setelah penggantian katup juga mencakup perawatan gigi,” kata Dr Edgar.

Pasien dengan katup buatan juga mungkin memerlukan antibiotik sebelum prosedur gigi tertentu, sesuai rekomendasi dokter yang menangani.

Teknologi Sudah Ada, tetapi Akses Masih Terbatas

Di Indonesia, teknologi TAVI sudah tersedia. Namun, jumlah rumah sakit atau pusat layanan yang dapat melakukan prosedur tersebut masih terbatas.

Dr Edgar mengatakan teknologi TAVI telah berkembang di Asia Tenggara sejak lebih dari satu dekade lalu.

Di Indonesia, Dr Pipin Kojodjojo, Cardiologist dari Mount Elizabeth Hospitals menambahkan, prosedur tersebut salah satunya telah dilakukan di pusat rujukan nasional, sementara beberapa rumah sakit lain juga mulai mengembangkan layanan serupa.

Keterbatasan jumlah pusat layanan antara lain berkaitan dengan biaya perangkat dan kebutuhan tenaga medis yang memiliki keahlian khusus dalam melakukan prosedur tersebut.

Karena itu, bagi masyarakat, langkah paling penting bukan menunggu sampai membutuhkan tindakan seperti TAVI, melainkan mengenali gejala dan melakukan pemeriksaan ketika muncul tanda yang tidak biasa.

Sesak napas yang semakin mudah muncul, stamina yang terus menurun, atau rasa lelah yang tidak kunjung membaik sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai konsekuensi bertambahnya usia.

Sebab, di balik keluhan yang tampak sederhana tersebut, bisa saja ada katup jantung yang perlahan kehilangan fungsinya.

Dan semakin cepat masalah tersebut ditemukan, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan sebelum jantung terlanjur mengalami kerusakan yang lebih berat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com