Bukan Sekadar Alat Bantu, AI Kini Diandalkan Ilmuwan untuk Temukan Obat Penyakit Kompleks

Kamis, 08 Oktober 2026 | 20:44 WIB
ilustrasi obat (freepik.com)
BACA 10 DETIK
  • Perusahaan Novo Nordisk bekerja sama dengan Anthropic untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dalam mempercepat penemuan obat.
  • Kolaborasi ini bertujuan membantu para peneliti memahami persoalan biologi yang kompleks serta meningkatkan produktivitas pengembangan obat.
  • Penerapan teknologi kecerdasan buatan tetap memerlukan pengawasan ketat dari para ahli untuk menjamin keamanan kesehatan manusia.

Suara.com - Perjalanan menemukan obat baru selama ini membutuhkan proses panjang. Peneliti harus memahami mekanisme penyakit, mencari kandidat senyawa, menguji berbagai kemungkinan, hingga memastikan obat aman dan efektif sebelum dapat digunakan pasien.

Proses tersebut dapat memakan waktu bertahun-tahun dengan biaya dan sumber daya yang besar. Kini, kecerdasan buatan (AI) mulai membuka peluang untuk mengubah cara para ilmuwan melakukan proses tersebut.

AI tidak hanya digunakan untuk membantu pekerjaan administratif atau mengolah data penelitian. Teknologi ini mulai dimanfaatkan untuk membantu peneliti memahami persoalan biologi yang kompleks, menemukan pola dari data dalam jumlah besar, serta mendukung pengambilan keputusan dalam proses penelitian dan pengembangan obat.

Potensi tersebut menjadi salah satu alasan Novo Nordisk menggandeng perusahaan AI Anthropic dalam kolaborasi untuk mempercepat penemuan dan pengembangan obat-obatan baru.

Melalui kerja sama ini, Novo akan memanfaatkan model AI Anthropic, termasuk Claude Science, dalam sejumlah alur kerja penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D).

Teknologi tersebut akan diuji untuk membantu menghadapi persoalan ilmiah yang dinilai dapat memperoleh manfaat dari kemampuan penalaran AI.

AI nantinya diharapkan dapat membantu para peneliti dalam memahami hubungan yang kompleks antara biologi manusia dan mekanisme kerja obat.

Dengan begitu, teknologi tidak sekadar menjadi alat untuk mencari informasi, tetapi dapat membantu ilmuwan mengembangkan cara baru dalam memecahkan persoalan penelitian.

“AI dapat membantu kami meningkatkan produktivitas R&D dan mempersingkat proses dari penelitian hingga produk dipasarkan,” ujar Mike Doustdar, Presiden dan CEO Novo.

Menurut Doustdar, pemanfaatan AI juga memiliki potensi yang lebih besar daripada sekadar mempercepat pekerjaan. Teknologi tersebut dinilai dapat membuka peluang ilmiah baru sekaligus membantu peneliti memahami biologi manusia dan mekanisme kerja obat dengan lebih baik.

Hal tersebut menjadi penting karena penemuan obat bukan proses sederhana. Para ilmuwan harus menggabungkan berbagai informasi mengenai penyakit, tubuh manusia, molekul, serta kemungkinan respons terhadap suatu terapi.

Kemampuan AI untuk membantu mengolah dan menghubungkan informasi tersebut berpotensi memberikan perspektif baru bagi tim penelitian.

CEO Anthropic Dario Amodei bahkan melihat perkembangan AI dapat membawa perubahan besar dalam bidang biologi dan kedokteran.

“Dengan kemampuan AI yang terus meningkat, terobosan di bidang biologi dan medis yang biasanya dicapai dalam satu abad, berpotensi dapat terwujud hanya dalam satu dekade,” kata Amodei.

Meski demikian, penggunaan AI dalam pengembangan obat bukan berarti menggantikan peran ilmuwan. Dalam kolaborasi ini, Novo dan Anthropic menekankan pentingnya pengawasan manusia serta tata kelola data yang kuat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com