- Global Sevilla School mengadakan seminar parenting bersama Dr. Asheena Baez di Jakarta Timur pada 22 Oktober 2026.
- Pakar memperkenalkan pendekatan strengths-based parenting dan metode scaffolded struggle agar anak dapat belajar mandiri menghadapi kesulitan.
- Kegiatan ini bertujuan membantu orang tua memperkuat hubungan keluarga serta mendukung tumbuh kembang karakter anak secara optimal.
Suara.com - Membantu anak saat menghadapi kesulitan merupakan bentuk kasih sayang orang tua. Namun, terlalu cepat turun tangan untuk menyelesaikan masalah anak justru bisa membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri dan mengembangkan kemampuan diri.
Orang tua perlu memahami kapan harus memberikan bantuan dan kapan perlu memberi anak ruang untuk mencoba. Pendekatan inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam seminar parenting Love & Legacy yang digelar Global Sevilla School di kampus Pulomas, Jakarta Timur, Kamis (22/10/2026).
Menghadirkan educator sekaligus pakar kepemimpinan dan kesejahteraan, Dr. Asheena Baez, seminar yang menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-24 Global Sevilla School tersebut mengajak orang tua membangun hubungan yang lebih kuat dengan anak sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka.
Dalam sesi tersebut, Dr. Asheena memperkenalkan pendekatan strengths-based parenting, yakni pola pengasuhan yang berfokus pada pengenalan dan pengembangan kekuatan anak, bukan semata-mata memperbaiki kekurangan mereka.
Menurutnya, kesibukan dan tuntutan sehari-hari sering kali membuat orang tua lebih mudah melihat hal-hal yang belum bisa dilakukan anak. Padahal, mengenali kemampuan yang sudah dimiliki anak dapat menjadi titik awal untuk membantu mereka menghadapi berbagai tantangan.
Pendekatan ini juga mengajak orang tua mengubah cara pandang terhadap pengasuhan. Alih-alih terus berfokus pada keterbatasan waktu, tenaga, atau sumber daya, orang tua dapat mulai melihat potensi yang dimiliki keluarga dan bagaimana potensi tersebut bisa dikembangkan.
Belajar Mendengarkan Tanpa Terburu-buru Memberi Solusi
Membangun kemandirian anak tidak hanya berkaitan dengan memberi mereka tanggung jawab, tetapi juga menciptakan hubungan yang membuat anak merasa aman untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.
Dr. Asheena mengajak orang tua untuk berhenti sejenak, mengenali emosi diri sendiri, dan hadir sepenuhnya ketika berinteraksi dengan anak.
Kemampuan mengelola emosi ini penting karena respons orang tua dapat memengaruhi suasana di rumah. Ketika orang tua mampu menenangkan diri, mereka memiliki ruang lebih besar untuk mendengarkan dan merespons anak tanpa terburu-buru menghakimi.
Dalam sesi praktik, orang tua juga diajak mengajukan pertanyaan yang berbeda kepada anak. Bukan sekadar menanyakan bagaimana hari mereka berjalan, melainkan bagaimana anak ingin merasakan hubungan bersama orang tuanya.
Pertanyaan tersebut membuka kesempatan bagi anak untuk mengungkapkan kebutuhan emosionalnya. Orang tua kemudian diminta mendengarkan jawaban anak tanpa langsung membantah, memperbaiki, atau menawarkan solusi.
Bagi Dr. Asheena, mendengarkan merupakan bagian penting dari hubungan yang dibangun atas dasar cinta. Orang tua tidak selalu harus menyelesaikan persoalan anak saat itu juga. Terkadang, memberi ruang agar anak merasa didengar merupakan respons yang lebih dibutuhkan.
Beri Anak Kesempatan Menghadapi Kesulitan
Selain komunikasi, Dr. Asheena memperkenalkan konsep scaffolded struggle, yaitu memberikan dukungan secara bertahap sambil tetap memberi anak kesempatan untuk mencoba dan menyelesaikan masalahnya sendiri.