- Dokter Manfaluthy Hakim menjelaskan pentingnya kualitas tidur dalam acara Mayapada Neuro Connect 2026 di Jakarta pada 24 Oktober 2026.
- Kebiasaan mendengkur dan kurang tidur dapat memicu gangguan kesehatan serius seperti hipertensi, rasa lelah, dan brain fog.
- Masyarakat diimbau menjaga durasi tidur ideal enam hingga delapan jam dan menghindari kebiasaan tidur larut malam.
Meski demikian, tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Menurut dr. Manfaluthy, gangguan pernapasan saat tidur dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
“Dalam jangka waktu panjang, bagaimana kekurangan oksigen atau sleep apnea saat tidur, itu satu merasa brain fog. Terus yang kedua mudah lelah,” jelasnya.
Gangguan tidur seperti sleep apnea juga diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi dan masalah metabolik. Karena itu, mendengkur keras yang disertai henti napas, sering terbangun, atau rasa kantuk berlebihan pada siang hari sebaiknya tidak diabaikan.
Gangguan Tidur Berkaitan dengan Risiko Hipertensi
Dr. Manfaluthy juga menyoroti hubungan antara gangguan tidur dan hipertensi. Tidur yang terganggu, khususnya akibat sleep apnea, dapat memengaruhi pengaturan tekanan darah dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama stroke. Tekanan darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke akibat penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak.
Artinya, menjaga kualitas tidur menjadi salah satu bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Namun, gangguan tidur bukan satu-satunya penyebab hipertensi atau stroke karena kedua kondisi tersebut juga dipengaruhi berbagai faktor lain.
Jika mengalami gangguan tidur yang menetap, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Jangan Mengandalkan Tidur Balas Dendam saat Akhir Pekan
Kebiasaan mengurangi waktu tidur pada hari kerja lalu menggantinya dengan tidur lebih lama saat akhir pekan juga menjadi perhatian.
Dr. Manfaluthy menjelaskan bahwa tidur lebih lama pada akhir pekan tidak sepenuhnya menggantikan proses pemulihan tubuh yang terganggu akibat begadang pada malam sebelumnya.
“Kalau hari berikutnya tidurnya tiga-empat jam, berarti pas weekend, jadi mulai pada satu malam sampai Minggu siang tidur. Balas dendam itu hanya berpengaruh terhadap psikologis. Supaya menghilangkan secara fisik rasa lelahnya, tetapi tidak menggantikan proses yang terlewati saat begadang,” ujarnya.
Karena itu, menjaga jadwal tidur yang konsisten lebih dianjurkan daripada terus-menerus mengurangi waktu tidur dan mencoba menggantinya pada akhir pekan.
Bagi pekerja dengan sistem sif malam, pengaturan waktu tidur dan lingkungan istirahat juga perlu diperhatikan. Ruangan yang gelap, tenang, dan nyaman dapat membantu mendukung tidur setelah bekerja pada malam hari.
Dr. Manfaluthy menambahkan, penanganan gangguan tidur terkadang membutuhkan kolaborasi beberapa dokter spesialis, mulai dari neurologi, jantung, penyakit dalam, THT, hingga kesehatan jiwa, sesuai dengan kondisi pasien.
Dengan mengenali tanda gangguan tidur sejak dini dan memperbaiki kebiasaan istirahat, masyarakat dapat mengambil langkah untuk menjaga kualitas tidur sekaligus mendukung kesehatan otak dan tubuh dalam jangka panjang.